Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...
Kiri yang Diabaikan
Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?
Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

AJI Peringati 28 Tahun Tragedi Kematian Wartawan Udin yang Tak Diusut Tuntas

Agustus 19, 2024

©Natasya/Bal

Massa aksi yang dimotori oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta datang dan memenuhi titik nol kilometer Yogyakarta. “Hidup Korban, Jangan Diam; Jangan Diam, Lawan,” ulang massa aksi, Jumat (16-08). Aksi itu rutin diserukan setiap tahunnya guna memperingati tragedi kekerasan dua puluh delapan tahun silam yang menimpa seorang wartawan harian Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin. Wartawan yang kerap disapa Udin mengalami penganiayaan oleh orang tak dikenal dan berujung pada kematian. Penganiayaan yang terjadi disinyalir kuat berhubungan dengan pemberitaan yang Syafruddin tulis mengenai dugaan korupsi Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul.

Aksi dimulai pada pukul 16.30 dengan ditandai berkumpulnya massa aksi yang berdiri dengan membawa spanduk dan poster. Namun, Jauh sebelum aksi dimulai, puluhan aparat polisi sudah berjaga dan memenuhi setiap sudut lokasi aksi. Kemudian, pukul 16.37 massa aksi mulai melakukan orasi. Januari Husin atau yang kerap disapa Juju selaku ketua AJI Yogyakarta dalam orasinya menyampaikan tuntutan yang dibawa oleh massa aksi. “Maka, pada hari ini kami menuntut polisi, menuntut Polda DIY untuk menuntaskan kasus pembunuhan Mas Udin, yang dibunuh karena menulis berita,” tegasnya.

Tak hanya kasus yang menimpa Udin, aksi yang berlangsung sore itu juga membahas peristiwa kekerasan terhadap jurnalis lain, terutama yang terjadi di Indonesia. Dalam keterangan Juju, setidaknya sejak 2006, AJI mencatat telah lebih dari 1.000 kasus kekerasan terhadap jurnalis terjadi. “Ada sembilan kasus tewasnya jurnalis dan cuma satu yang kita anggap pengusutannya tuntas. [Itu-red] di Bali,” terangnya.

“Kawan-kawan sekalian selama kasus pembunuhan dan kekerasan terhadap jurnalis di masa lalu tidak diungkap tuntas oleh polisi, selama itu pula jurnalis di Indonesia bekerja dalam bayang-bayang kematian,” tutur Juju. Selang beberapa waktu kemudian, pada pukul 16.47 massa aksi mengheningkan cipta. Hening cipta yang berlangsung selama satu menit menjadi bentuk penghormatan terhadap mendiang Udin. 

Aksi kali ini juga tidak hanya dihadiri oleh jurnalis, aktivis, maupun mahasiswa. Massa aksi dihadiri berbagai kalangan umur. Anak kecil ikut membentangkan poster bersama dengan jurnalis lainnya. Ini menjadi bentuk bahwasannya, pelanggaran hak asasi akan menjadi kepedulian semua kalangan. “Mungkin dia [anak kecil-red] nggak paham kasusnya, tapi dia terbiasa dengan kritik,” ujar Bekti, jurnalis yang membawa putrinya untuk mengikuti aksi kali ini. 

Pada pukul 16.56, rangkaian aksi ditutup dengan tindakan simbolis memukul kentungan. Kentungan dibagikan kepada massa aksi dan membunyikannya bersamaan. ”Membunyikan kentungan, menyalakan alarm tanda bahaya darurat kekerasan terhadap wartawan dan darurat impunitas terhadap pelaku kekerasan jurnalis,” ujar Juju.

Juju menegaskan, aksi ini sebagai penegasan atas pesan-pesan ketakutan masyarakat di dalam bayang-bayang tragedi kematian masyarakat sipil, terutama jurnalis. Ia kembali menambahkan bahwa aksi ini bukanlah aksi yang pertama karena pada kenyataannya sudah banyak jalur yang digunakan untuk menuntaskan kasus kematian Udin. “Kita sudah pada taraf kita mau ngapain lagi untuk jalur litigasinya. Kayaknya semua sudah dilakukan,” terang Juju. 

Namun demikian, Juju tetap menegaskan bahwa segala usaha akan tetap diupayakan untuk menuntaskan kasus kematian Udin. Salah satunya adalah untuk meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia untuk menetapkan kasus kematian Udin sebagai kasus pelanggaran hak asasi berat. Juju juga percaya bahwa perjuangan AJI dalam menuntaskan kasus kematian Udin akan terus dilakukan. “Aksi simbolis untuk memperingati tewasnya Mas Udin akan kami lakukan, sepanjang kasus ini belum terungkap. Selama belum diungkap oleh polisi, selama itu juga kami akan terus melakukan aksi,” tegas Juju.

Penulis: Tafrihatu Zaidan Al Akhbari dan Gladwin Panjaitan
Penyunting: Ester Veny
Fotografer: Natasya Mutia Dewi

Redaksi

See author's posts

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga DIY

    Oktober 5, 2026
  • Kiri yang Diabaikan

    Oktober 1, 2026
  • Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?

    September 24, 2026
  • Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal

    September 24, 2026
  • Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

    September 18, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM