Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Aksi Ibu Berisik Keluhkan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap...
Brutalitas Aparat dalam Aksi Sumpah Pemuda Yogyakarta
Aksi Sumpah Pemuda Yogyakarta Keluhkan Berbagai Kebijakan Pemerintah
Isu Pembungkaman Driver Maxim Jogja di RDPU Berakhir...
Aksi DPRD DIY Berujung Represi oleh Polisi dan...
Rektorat UGM Enggan Tanda Tangani MoU Penyelesaian Isu...
Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi...
Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...
Kiri yang Diabaikan
Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILASMagang

Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi di Indonesia

Oktober 17, 2026

©Kenisha/Bal

“Situasi karut-marut yang kita hadapi ini menunjukkan bahwa kita sudah mengalami ilusi demokrasi,” ujar Martin Suryajaya dalam diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah”  yang diselenggarakan sebagai penutupan Jogja Art + Book Festival (JABFEST) 2026 di The Ratan, Yogyakarta, Senin (12-10). Diskusi ini menghadirkan Martin Suryajaya, seorang penulis dan akademisi, sebagai narasumber dan Dulrahman, ketua pelaksana gelaran JABFEST 2026, sebagai moderator. Dalam dalam diskusi ini, Martin menyoroti persoalan demokrasi di Indonesia yang ilusif dan justru mereproduksi ketidakadilan. 

Dalam buku “Apa Rakyat Bisa Salah” yang sedang didiskusikan, Martin melihat bahwa Indonesia sudah menghadapi ilusi demokrasi sejak Orde Baru. Menurutnya, salah satu ilusi ini tercermin dari anggapan ideal masyarakat mengenai demokrasi yang masih bertumpu pada negara Barat. Martin mengutarakan bahwa prinsip-prinsip fundamental demokrasi yang diidealkan di negara-negara Barat ini antara lain adalah kesetaraan, kebebasan individual, atau bahkan separasi militer dari politik. “Sebenarnya pilar-pilar yang selama ini dianggap sebagai pilar demokrasi yang kokoh itu semua omong kosong,” tegas Martin.

Permasalahan tersebut membuat Martin mempertanyakan cara menciptakan prinsip keadilan  yang  dapat menjawab permasalahan demokrasi. Menurutnya, perumusan model politik yang memungkinkan adanya keadilan, justru perlu berangkat dari sudut pandang kelompok yang merasakan ketidakadilan. Sebab, ketidakadilan yang mereka alami telah menggambarkan kondisi mendasar dari tatanan politik yang ada. “Jadi, jika terselesaikan, masalah sosial di atasnya akan ikut terpecahkan,” jelas Martin. 

Namun, saat menanggapi Martin, salah seorang peserta diskusi bernama Steven menyampaikan kritiknya. Menurutnya, sebagian kelompok yang menghadapi ketidakadilan saat ini cenderung melampiaskan kekesalannya dengan membabi buta. Di sisi lain, Rahman selaku peserta diskusi asal Makassar merasa bahwa masyarakat di daerahnya justru dengan mudah memberikan dukungan politik kepada penguasa. “Masyarakat kita masih sangat kurang dari sisi pengetahuan politik, bahkan yang paling merasakan kesusahan saja masih membela rezim,” ujar Rahman. 

Melihat persoalan tersebut, Martin mengungkapkan bahwa revolusi memang tak dapat dikendalikan karena semua bergerak secara otonom. Oleh sebab itu, tatanan sistem yang diciptakan masyarakat tertindas diperlukan sebagai usaha untuk merumuskan satu prinsip kebijakan yang dapat diterima oleh semua kalangan. “Infrakrasi [Tatanan sistem oleh masyarakat tertindas–red] bukan soal bagaimana kemungkinan terjadi revolusi kekerasan, tapi  bagaimana kita mendesain kebijakan sehingga bisa merefleksikan kepentingan bersama,” jelas Martin.

Penulis: Rizal Yusuf Hasan, Imelda Anggita Ratih, Mega Suci Handayani (magang)
Penyunting: Syalwa Salsabila
Fotografer: Kenisha Fahmida Wibowo
Kurator: Alima

Redaksi

See author's posts

3
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Aksi Ibu Berisik Keluhkan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap...

Brutalitas Aparat dalam Aksi Sumpah Pemuda Yogyakarta

Aksi Sumpah Pemuda Yogyakarta Keluhkan Berbagai Kebijakan Pemerintah

Isu Pembungkaman Driver Maxim Jogja di RDPU Berakhir...

Aksi DPRD DIY Berujung Represi oleh Polisi dan...

Rektorat UGM Enggan Tanda Tangani MoU Penyelesaian Isu...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Aksi Ibu Berisik Keluhkan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Perempuan

    November 2, 2026
  • Brutalitas Aparat dalam Aksi Sumpah Pemuda Yogyakarta

    November 1, 2026
  • Aksi Sumpah Pemuda Yogyakarta Keluhkan Berbagai Kebijakan Pemerintah

    November 1, 2026
  • Isu Pembungkaman Driver Maxim Jogja di RDPU Berakhir Buntu

    Oktober 25, 2026
  • Aksi DPRD DIY Berujung Represi oleh Polisi dan Terduga Preman

    Oktober 25, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM