
©Pangestu/Bal
Pada Selasa (20-10), berbagai elemen masyarakat melakukan aksi demonstrasi di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Massa aksi yang hadir sejak pukul 10.00 WIB tersebut menuntut pertanggungjawaban rezim Prabowo-Gibran atas kekacauan negara selama dua tahun kekuasaannya. Namun aksi justru berujung dengan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kepolisian dan sekelompok preman. Selain itu, aksi ini juga mengakibatkan sejumlah massa ditahan beberapa saat oleh pihak kepolisian untuk diinterogasi.
Sebelum tindakan kekerasan terjadi, pada pukul 18.39 WIB, massa aksi sempat mendesak pihak DPRD DIY beserta seluruh jajaran fraksi agar dapat melangsungkan dialog di dalam gedung bersama semua massa aksi. Namun, pihak DPRD menolak permintaan tersebut. “Kalau ada yang masuk, semuanya nanti minta masuk, terus nanti masalah keamanan juga,” dalih Yan, perwakilan anggota DPRD DIY.
“Ini rumah rakyat, bukan gedung kaum oligarki,” seru salah satu massa aksi menanggapi penolakan pihak DPRD. Penolakan ini lantas membuat massa aksi berusaha merangsek masuk ke dalam gedung. Nahas, barikade aparat kepolisian yang menutup rapat pintu gedung justru menghalangi massa. Akibatnya, situasi semakin memanas hingga membuat massa aksi terlibat dorong-dorongan dengan aparat kepolisian. Pada saat yang sama, sekitar pukul 20.40 WIB, sekelompok orang terduga preman memasuki area DPRD dan bergabung dengan barisan polisi di area samping gedung.
Di tengah situasi tersebut, sekitar pukul 21.30 WIB, terdengar suara ledakan keras dan tebaran asap dari arah teras gedung secara tiba-tiba. “Saya lihat ada yang ngelemparkan [petasan-red],” tutur Fafa (bukan nama sebenarnya), salah seorang massa aksi. Ledakan ini disusul oleh kemunculan aparat kepolisian dari arah gedung menuju gerbang keluar DPRD. Berdasarkan pengamatan BALAIRUNG, aparat yang beratribut lengkap datang untuk menendangi dan memukuli massa hingga keluar area DPRD.

Barikade polisi beratribut lengkap di depan DPRD DIY
©Alima/Bal
Ketika massa aksi berlarian keluar, sekelompok preman terlihat menunggu massa aksi di luar gedung DPRD. Menurut Fafa, mereka memukuli massa menggunakan berbagai macam senjata seperti scaffolding, cangkul, dan kayu panjang. Fafa mengatakan bahwa beberapa preman tersebut juga mengejar massa aksi yang mencoba menyelamatkan diri, lalu menyeret dan memukulinya. “Saya ini diseret ke trotoar depan hotel itu ke arah DPRD, dipukulin, ditendang, dan ditonjok semuanya itu,” tuturnya.
Selain Fafa, salah seorang tenaga medis juga tak luput menjadi korban kekerasan para preman. Saat keributan pecah, tampak salah seorang tenaga medis dikejar oleh preman di depan gedung DPRD DIY. Saat dikejar, tenaga medis tersebut mencoba berteriak untuk memberitahu bahwa dirinya seorang medis. “Medis! Medis!” serunya dengan panik. Namun, sekelompok preman tetap memukulinya hingga terjatuh. Alih-alih menolong, pihak kepolisian yang berada di dekat tempat kejadian justru tidak melakukan upaya pencegahan.
Setelah rentetan kekerasan yang terjadi, para preman menahan beberapa peserta aksi untuk diserahkan ke pihak kepolisian yang ada di dalam gedung DPRD. Menurut Bobi (bukan nama sebenarnya), salah satu massa aksi, sebanyak 32 massa aksi sempat ditahan oleh kepolisian untuk diinterogasi. Berdasarkan pengakuannya, ia yang saat itu hadir mendampingi massa aksi melihat bahwa aparat kepolisian men-doxing massa aksi dengan mengecek dan merekam isi handphone mereka. Selain di-doxing, massa aksi juga kembali mendapat kekerasan dari kepolisian saat proses interogasi. “Diinjak-injak, dipukulin, gitu-gitu lah,” jelas Bobi. Massa aksi yang sempat ditahan tersebut, menurutnya, baru dibebaskan kembali pada Rabu (21-10) pukul 02.30 WIB.
Penulis: Adhiyaksa Wahyu dan Reyhan Jauza Dani Firmansyah
Penyunting: Muhammad Muflihun
Fotografer: Alima dan Pangestu Ibnu
Kurator: Adhitia Sutanto