Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Aksi Ibu Berisik Keluhkan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap...
Brutalitas Aparat dalam Aksi Sumpah Pemuda Yogyakarta
Aksi Sumpah Pemuda Yogyakarta Keluhkan Berbagai Kebijakan Pemerintah
Adiladiliiiadiladiliii
Isu Pembungkaman Driver Maxim Jogja di RDPU Berakhir...
Aksi DPRD DIY Berujung Represi oleh Polisi dan...
Rektorat UGM Enggan Tanda Tangani MoU Penyelesaian Isu...
Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi...
Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...
Kiri yang Diabaikan

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILASMagang

Aksi Ibu Berisik Keluhkan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Perempuan

November 2, 2026

©Sadewa/Bal

“Udah perempuan, WNI lagi, double kill banget,” ujar salah seorang orator dalam aksi yang digelar oleh komunitas Ibu Berisik di Titik Nol Kilometer Yogyakarta pada Jumat sore, (31-10). Aksi ini diselenggarakan sebagai bentuk protes terhadap pemerintah sejumlah kebijakan pemerintah yang carut marut. Selain komunitas Ibu Berisik, aksi ini diikuti oleh beragam komunitas, kelompok seniman, para pemuda, anak-anak, serta berbagai elemen masyarakat lain. Aksi dilakukan dengan berbagai kegiatan, seperti orasi, live painting, bernyanyi bersama, dan doa bersama. Selama kegiatan, pukulan panci dan suara klakson turut dibunyikan untuk meramaikan agenda sore itu. 

Dalam aksi ini, komunitas Ibu Berisik menyampaikan keluh kesah mereka sebagai warga negara Indonesia dari sudut pandang perempuan. Dita (bukan nama sebenarnya) selaku massa aksi menyoroti bahwa isu nasional seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak ke hidup perempuan. “Dari mulai kebakaran hutan, MBG, [dana penanggulangan-red] bencana yang dikorupsi, segala macam yang merugikan bangsa dan negara termasuk anak-anak dan perempuan,” tutur Dita. 

Selain karhutla dan MBG, Surmi (bukan nama sebenarnya), salah seorang massa aksi, menyoroti kebijakan pajak pembalut sebesar 12% yang membebani perempuan. Ia mengeluhkan kebijakan tersebut karena pembalut merupakan kebutuhan dasar bagi perempuan. “Tega-teganya kita dipajekin untuk pembalut,” keluhnya.

Pernyataan Surmi dalam orasinya tersebut didukung oleh bait puisi yang disampaikan Tiara. Keduanya sependapat bahwa sulitnya akses kebutuhan dasar menunjukkan bahwa pemerintah sengaja mempersulit posisi mereka sebagai perempuan. Menurutnya, hal tersebut membuat perempuan harus merogoh kocek lebih banyak. “Bahkan untuk menjadi perempuan saja rasanya semakin mahal di negeri ini,” seru Tiara dalam puisinya. Ia juga mempertanyakan alasan akses pembalut yang digunakan perempuan sebagai kebutuhan dasar justru dipersulit.

Selain Surmi dan Tiara, salah seorang peserta aksi bernama Astrid turut menyuarakan kesulitannya sebagai pemilik kedai sederhana. Ia menilai bahwa harga yang ditetapkan oleh pasar hari ini cukup menyulitkan dirinya untuk membeli kebutuhan logistik dalam berdagang. “Saya beli timun kemarin Rp12.000 cuma dapat dua. Semua pemilik warung yang saya kenal itu bicara soal harga yang terlalu tinggi untuk semuanya,” ujar Astrid.

Selain isu tersebut, komunitas Ibu Berisik juga membawakan tuntutan lain perihal keberadaan organisasi masyarakat (ormas). Mereka menyerukan untuk menghentikan gerakan-gerakan ormas yang marak terjadi di Yogyakarta. “Stop intimidasi dan hentikan mobilisasi warga sebagai aparat keamanan tak berseragam,” kata Gendis (bukan nama sebenarnya), seorang massa aksi. 

Atas berbagai persoalan yang ada, Dita berharap pemerintah segera memberikan solusi. Ia menilai pemerintah seharusnya memiliki kapabilitas untuk menangani sejumlah masalah yang sedang terjadi, seperti karhutla. “Harusnya dengan segala teknologi yang kita punya, dengan segala air yang disemprotin ke mahasiswa untuk bubarin demo, bisa untuk memadamkan kebakaran hutan,” ungkap Dita.

Ozi selaku juru bicara dari komunitas Ibu Berisik mengatakan bahwa aksi ini digelar karena para ibu ingin memperjuangkan lingkungan yang sehat dan negara dengan perekonomian stabil bagi generasi mendatang. Ia menyebut bahwa para ibu terus bersuara karena memikirkan masa depan anak-anak mereka.  “Kita nggak mau mewarisi negara yang hutangnya triliunan rupiah,” pungkas Ozi.

Penulis: Amru Arafat, Anindiyamaya Candra Putri, Dionysius Nugroho Danumurti (Magang)
Penyunting: Adhiyaksa Wahyu
Fotografer: Rafael Franz Marvelous Bhasadeva (Magang)

Redaksi

See author's posts

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Brutalitas Aparat dalam Aksi Sumpah Pemuda Yogyakarta

Aksi Sumpah Pemuda Yogyakarta Keluhkan Berbagai Kebijakan Pemerintah

Isu Pembungkaman Driver Maxim Jogja di RDPU Berakhir...

Aksi DPRD DIY Berujung Represi oleh Polisi dan...

Rektorat UGM Enggan Tanda Tangani MoU Penyelesaian Isu...

Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Aksi Ibu Berisik Keluhkan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Perempuan

    November 2, 2026
  • Brutalitas Aparat dalam Aksi Sumpah Pemuda Yogyakarta

    November 1, 2026
  • Aksi Sumpah Pemuda Yogyakarta Keluhkan Berbagai Kebijakan Pemerintah

    November 1, 2026
  • Adiladiliiiadiladiliii

    Oktober 28, 2026
  • Isu Pembungkaman Driver Maxim Jogja di RDPU Berakhir Buntu

    Oktober 25, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM