Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...
Kiri yang Diabaikan
Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?
Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
ALMAMATERREDAKSI

Panggung Solidaritas bagi Warga Penolak NYIA

Desember 16, 2017

Lapak donasi untuk warga penolak NYIA. ©Bernard/Bal

“Jika kami bunga
Engkaulah tembok itu
Telah kami sebar biji-biji di tubuhmu

Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: kau harus hancur.”

Nyanyian oleh Fajar Merah tersebut dilantunkan di panggung solidaritas dan doa bersama untuk korban penggusuran Kulon Progo. Panggung bertajuk “Gugur Bumi, Gugur Pertiwi” itu, diadakan pada Rabu (14-12) di Kedai Kebun Forum. Panggung digelar sebagai bentuk solidaritas kepada warga yang menolak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Bambang Muryanto dari Aliansi Jurnalis Indonesia Yogyakarta juga turut hadir di panggung tersebut. Dalam refleksinya, Bambang mengungkapkan bahwa Yogyakarta sedang mengalami permasalahan agraria yang serius. Hal ini diperparah dengan media lokal Yogyakarta yang tidak pernah mengangkat persoalan agraria, salah satunya pembangunan bandara, dengan perspektif HAM yang benar. Baginya, beberapa media cenderung bias dengan mendukung pemerintah dan PT Angkasa Pura. “Kita sebagai masyarakat juga harus mengontrol media supaya media memberikan ruang pembelaan bagi kaum yang lemah,” ungkapnya.

Laksmi Safitri dari Antropologi UGM, memulai sesi refleksi selanjutnya dengan memperlihatkan gambar-gambar mesin pengeruk. Saat ini, mesin-mesin itu telah menjadi lambang modernitas dan pembangunan. Ia mencotohkan, di Merauke, pohon-pohon kayu yang bernilai tinggi ditumbangkan oleh mesin tersebut untuk dijadikan lahan produktif, yaitu kebun kelapa sawit atau sawah. Tanaman baru itu menggantikan tanaman sagu, yang selama ini menjadi pangan utama warga. “Sawah di sana ditanami padi-padi berwarna ungu yang kemudian diekspor untuk makan orang-orang Jepang,” tuturnya.

Sementara itu, menurut Laksmi, modernitas justru menghancurkan lahan-lahan yang telah subur di Kulon Progo. Penghancuran lahan subur juga membuat kuburan-kuburan mesti dibongkar ulang. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya mengusir mereka yang masih hidup, tetapi juga mereka yang telah mati. Modernitas, pada akhirnya, ungkap Laksmi, tidak hanya menghasilkan kesejahteraan dan kemakmuran, tetapi juga kematian. “Modernitas tidak hanya menghidupkan, tetapi juga membunuh. Bahkan yang sudah mati pun harus mati berulang kali,” pungkasnya.

Setelah Laksmi, Dodok Putra Bangsa naik ke atas panggung untuk berorasi. Dalam orasinya, Dodok mengajak pendengarnya untuk selalu berani memegang teguh kebenaran. Siapapun orangnya, lanjut Dodok, sekalipun bukan orang Kulon Progo ataupun Yogyakarya, berhak menolak pembangunan bandara. Hal ini dikarenakan Dana Keistimewaan Yogyakarta itu datangnya dari APBN yang dihimpun dari Sabang sampai Merauke. “Jadi jangan menerima dana istimewa kalau tidak mau dikritik oleh orang-orang dari Sabang sampai Merauke,” ungkap Dodok.

Haidar dan Yudhis, dua aktivis dari Jogja Darurat Agraria malam itu turut menceritakan kondisi terkini warga Temon yang masih bertahan. Mereka mengatakan bahwa saat ini, warga yang bertahan terus diintimidasi. Relawan yang hadir di Temon, menurut Haidar, tidak pernah tidur di bawah jam dua belas malam karena penggusuran berpotensi terjadi setiap detik. Karena itu, Haidar dan Yudhis berharap massa yang datang malam itu turut menengok warga Temon, Kulon Progo, untuk sekadar memberi dukungan bagi warga. “Terutama pada tanggal 18 Desember nanti, PT Angkasa Pura akan datang dan mengosongkan paksa rumah warga Temon yang masih bertahan,” pungkas Haidar.

Fajar Merah mengisi panggung solidaritas. ©Bernard/Bal

Selain rekflesi dan orasi, panggung juga diisi oleh musisi, seniman, dan aktivis. Mereka adalah JRX SID, Fajar Merah, Gunawan Maryanto, FJ Kunting, Deugalih, Iksan Skuter, Melanie Subono, Sisir Tanah, dan Frau. Turut hadir pula lapak donasi dari Warning Books, Berdikari Book, Buku Mojok, Buku Akik, Penerbit Ultimus, Shira Media, Insist Press, Penerbit Jalan Baru, Perpustakaan Jalanan DIY, Kolasoke, dan Katalika Project. Semua hasil penjualan lapak donasi akan didonasikan untuk warga Temon, yang sampai saat ini masih mempertahankan rumahnya.

Penulis: Sanya Dinda
Editor: Bernard Evan

Redaksi

See author's posts

NYIAPanggungsolidaritasTemon
1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

Taufiqurrahman: Produksi Pengetahuan Tanpa Komersialisasi Bukan Upaya Mustahil

Sigit Heru Murti: Tata Kelola Biaya KKL Itu...

Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi

Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...

Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga DIY

    Oktober 5, 2026
  • Kiri yang Diabaikan

    Oktober 1, 2026
  • Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?

    September 24, 2026
  • Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal

    September 24, 2026
  • Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

    September 18, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM