Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?
Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat
Taufiqurrahman: Produksi Pengetahuan Tanpa Komersialisasi Bukan Upaya Mustahil
LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Elegi, Titian Karier Kepenulisan Michel

Januari 19, 2017
©Rani/BAL

©Rani/BAL

Taman Baca Kesiman, Denpasar, kembali mengadakan bincang buku pada Selasa (17-01) malam. Buku yang dibincangkan kali ini adalah kumpulan cerita pendek (cerpen) terbaru milik Dewi Kharisma Michellia yang bertajuk Elegi. Buku ini merupakan buku ketiga Michel setelah sebelumnya menerbitkan novel “Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya” (2013), dan novelisasi film A Copy of My Mind (2016) karya Joko Anwar. Bincang buku ini dihadiri oleh puluhan peserta yang merupakan pegiat sastra, pecinta sastra, dan masyarakat umum.

Elegi berisi tiga belas cerpen dan enam fragmen yang ditulis Michel dalam kurun waktu 2009 sampai 2014. Michel menuturkan bahwa buku ini bernilai sangat personal untuknya karena cerpen-cerpen tersebut merupakan pijakannya dalam memulai karier sebagai cerpenis. Tema besar yang diangkat dalam Elegi juga dekat dengan kehidupannya saat itu, yakni kehilangan, kepergian, dan kematian. “Ketika ibu saya meninggal dunia pada 2008, saya bertanya-tanya kemana perginya orang yang paling dekat dengan kita ketika ia meninggal? Sejak itu saya mulai mengeksplorasi tema-tema ini,” kisahnya.

Bagi Michel, menulis adalah proses hidup sehingga pengaruh bacaan sangat penting. “Suka membaca membuat orang suka menulis. Ketika tidak banyak membaca, jadinya mandek,” ucap wanita yang juga merupakan editor ini. Ia menyebut karya Nietzsche, Camus, dan Kafka berpengaruh dalam penulisan beberapa cerpen di Elegi. “Curi saja khazanah teknik penulisan yang bagus dari penulis lain dan tempatkan dia sesuai gaya tulisanmu,” saran wanita kelahiran Denpasar ini.

Oka Rusmini, sastrawan yang juga bekerja di harian Bali Post, turut mengemukakan pandangannya tentang pengaruh bacaan dalam proses penulisan. Ia menyarankan agar penulis muda kembali membaca sastra kuno untuk mengembangkan gagasan menulis. Ia memberi contoh sastra Bali kuno yang sangat kaya akan tema. “Ide tidak akan kering jika kita rajin membaca sastra kuno,” ujarnya.

Michel pun sepakat dengan pernyataan Oka. Menurutnya, masih banyak lontar dan kitab yang belum terjamah. Ia sendiri mengakui bahwa dirinya belum terlalu banyak membaca tentang Bali. Dalam buku ketiganya ini, ia hanya menyisipkan unsur Bali pada satu cerpen yang berjudul “Mengantar”. Meskipun begitu, ia berharap suatu saat dapat ‘kembali ke akar’, menulis tentang Bali. Menulis tentang perebutan harta warisan dengan ilmu hitam, perebutan tanah, bagaimana Bali dikavling untuk pariwisata, dan reklamasi Teluk Benoa, misalnya. “Itu mungkin proyek terbesar saya di kemudian hari, tetapi untuk sekarang saya masih perlu membaca lebih banyak lagi,” ungkapnya.

Selain ingin mengeksplorasi tema tentang Bali, Michel juga ingin mengarahkan tulisannya ke tema ekopolitik, seperti masalah kesenjangan kelas. Ia mengaku bosan berkutat dengan tema eksistensialis, psikologis, dan personal dalam cerpennya. Walaupun begitu, ia masih percaya dan ingin mempertahankan prinsipnya bahwa hal psikologis berpengaruh besar dalam diri manusia.

Karya Michel mendapatkan apresiasi dari peserta bincang buku. Salah satunya Wulan Dewi Saraswati yang memuji tema besar dalam Elegi. “Ternyata hal-hal yang menyedihkan dalam hidup, seperti kematian, bisa jadi hal yang positif dan menginspirasi,” tutur pecinta sastra ini. Oka Rusmini pun turut memuji Michel dengan menyebutnya sebagai penulis muda yang menulis paling rapi.

Gede Indra Pramana selaku moderator bincang buku Elegi mengatakan bahwa tidak ada persiapan khusus untuk mendatangkan Michel ke Taman Baca Kesiman. “Karena kebetulan Michel pulang ke Bali, sekalian saja kami adakan bedah buku,” ucapnya. Indra menambahkan bahwa bincang buku ini dapat disebut sebagai sebuah pra-peluncuran Elegi sebelum diluncurkan secara resmi di Yogyakarta, Jumat (20-01). “Meski hanya bincang buku dan tidak ada persiapan khusus, saya senang melihat peserta antusias mengikuti acara ini,” tandasnya. [Oktaria Asmarani]

Redaksi

See author's posts

Balibukukilas
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?

    September 24, 2026
  • Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal

    September 24, 2026
  • Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

    September 18, 2026
  • Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian Lapangan Kerja

    September 15, 2026
  • Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang Tak Terusik

    September 12, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM