Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi...
Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...
Kiri yang Diabaikan
Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?
Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KABARKILAS

FACULTY : Wujud Cinta Budaya dan Sesama

Februari 17, 2014
©Arif.bal

©Ilyas.bal

Sabtu, (15/02) malam,  AIESEC UGM mengadakan pentas seni di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta. Acara yang bernama FACULTY (Fun Art, Culture, and Charity) ini menghadirkan beberapa kesenian daerah yang ada di Indonesia. Djodi Hendarto selaku ketua panitia mengungkapkan tujuan diadakannya acara ini adalah untuk meningkatakan minat anak muda dalam mempelajari dan menghargai budaya tradisional. “Sangat banyak kebudayaan khas Indonesia yang kurang dihargai dan bahkan tidak diketahui oleh anak muda Indonesia,” ungkapnya.

Acara ini menyajikan pementasan berupa drama yang dikolaborasikan dengan tarian daerah dan musik tradisonal. Pementasan drama dalam acara ini mengangkat cerita Malin(g) Cinto yang merupakan adaptasi dari cerita rakyat Malin Kundang. Kolaborasi seni tari dalam drama ini menampilkan beberapa tarian khas Indonesia yakni Tari Bali, Reog Ponorogo, Tari Solo dan Tari Saman. Selain itu alat musik angklung dan gamelan juga berkolaborasi dalam pementasan drama tersebut.

Mahasiswa yang terlibat dalam pementasan bukan hanya berasal dari Indonesia. Terdapat  sembilan orang mahasiswa dari tujuh negara berbeda yang turut terlibat. Kesembilan mahasiswa asing tersebut merupakan exchange participant AIESEC UGM. Mahasiswa asing yang terlibat dalam pementasan ini dilatih oleh beberapa learning partners dari UKM seni UGM dan luar UGM. Learning partners tersebut dianataranya diantaranya Bekage (Bengkel Kesenian Geografi) UGM, Saman Ceudah Rupa HI UGM dan Unit Kesenian Jawa Gaya Surakarta (UKJGS) UGM. Djodi mengungkapkan proses latihan yang dilakukan oleh kesembilan mahasiswa tersebut hanya dalam waktu yang singkat.“Sembilan mahasiswa asing tersebut hanya berlatih selama delapan minggu.”

Konsep Pementasan seni khas Indonesia  yang mengkolaborasikan pemain dari berbagai negara berbeda ini merupakan hal yang jarang dilakukan. “Pementasan ini merupakan pengalaman pertama saya dan Bekage pentas dengan lawan main mahasiswa dari tujuh negara berbeda,” ujar Agam Rafsanjani, salah satu anggota Bekage dan pemeran Malin dalam pementasan. Dia menambahkan acara ini juga sebagai ajang memperkenalkan budaya Indonesia “Melalui pementasan ini kita dapat mengenal mahasiswa asing dan juga mengenalkan budaya kita kepada mereka,” imbuhnya.

Sesuai dengan nama acara yakni Fine Art, Culture, and Charity. Hasil dari penjualan tiket acara ini akan digunakan sebagai dana bantuan pendidikan. “Dana yang terkumpul lewat penjualan tiket ini akan disumbangkan,” ungkap Djodi. Dia menambahkan, bantuan akan disumbangkan melalui Hoshizora Foundation,  yaitu sebuah LSM yang peduli terhadap anak – anak tidak mampu dan putus sekolah.” [Arif Yunahar Ilyas]

 

Administrator

See author's posts

aiesecbudayaexchangefacultypementasanseniugm
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi...

Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi di Indonesia

    Oktober 17, 2026
  • Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga DIY

    Oktober 5, 2026
  • Kiri yang Diabaikan

    Oktober 1, 2026
  • Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?

    September 24, 2026
  • Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal

    September 24, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM