Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...
Kiri yang Diabaikan
Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?
Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KABARNALARPOLLING

Membaca Efektifitas AAI

Desember 24, 2013

Carut-marut pelaksanaan AAI mengundang respon mahasiswa dan meninggalkan beberapa tanya.

           Belakangan ini banyak masalah terkait pelaksanaan AAI. Salah satunya adalah tidak meratanya pembinaan AAI ke setiap fakultas di UGM. Artinya keefektifan AAI hanya dapat dirasakan oleh sebagian mahasiswa. Berangkat dari permasalahan tersebut tentunya perlu dipertanyakan bagaimana respon mahasiswa terhadap AAI? Masih efektifkah pelaksanaan AAI?

            Asistensi Agama Islam (AAI) adalah suatu kegiatan yang berbentuk mentoring.  Sasaran mentoring adalah para mahasiswa baru, sedangkan para mentor berasal dari kakak tingkat. Materi yang disampaikan berupa pengajaran tentang agama islam itu sendiri. Pelaksanaannya dibentuk kelompok-kelompok kecil yang dibimbing oleh satu mentor. Kelompok kecil itu kurang lebih terdiri dari 15 orang.

           AAI berawal dari gagasan Cholid Mahmud yaitu ketua Jamaah Shalahudin UGM. Dia  bekerja sama dengan Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) untuk mengajukan gagasan tersebut ke Rektor. Pada tahun 1986 gagasan tersebut disetujui rektor dan AAI resmi dijalankan. Pada tahun itu AAI berbentuk stadium general yang mengumpulkan seluruh mahasiswa beragama islam di Masjid Kampus UGM. Kegiatan tersebut kemudian diteruskan ke tingkat fakultas. AAI sendiri hadir sebagai penyokong bagi mata kuliah agama islam. Awalnya, AAI lebih memfokuskan pada pembenaran bacaan Al-Quran dan praktek shalat. Pada saat itu, AAI juga berpedoman pada instruksi para dosen Agama Islam di setiap Fakultas.

           Untuk mengetahui tentang keefektifan AAI dan sejauh mana respon mahasiswa kepada AAI, tim riset Balairung mengadakan penelitian kepada 90 responden. Riset dilakukan secara merata ke 18 Fakultas dan satu Sekolah Vokasi. Hasil polling menunjukan sebanyak 5 responden tidak mengetahui tentang adanya AAI.

tahu AAI

          Data tersebut dapat menunjukan bahwa ternyata AAI tidak diketahui mahasiswa UGM secara menyeluruh. Hal inilah yang patut digaris bawahi mengingat kegiatan AAI ini sendiri bersifat wajib bagi mahasiswa baru. Walaupun AAI belum menapakkan jejaknya secara menyeluruh, agaknya AAI masih diminati dan dianggap perlu oleh mahasiswa UGM. Hasil penelitian kami menunjukan 67 respoden merasa perlu dengan hadirnya AAI dan 33 responden menganggap AAI bukanlah sebuah kebutuhan.

Perlu AAI

          Mayoritas dari mereka yang menganggap AAI itu perlu mengatakan bahwa AAI berguna untuk menunjang kehidupan spiritual mereka di kampus. Dengan adanya AAI mereka jug bisa menambah wawasan tentang agama islam. Sedangkan di pihak lain yang merasa AAI bukanlah sesuatu yang dirasa perlu, mereka berasalan bahwa agama ada di wilayah privasi manusia. Mereka menambahkan kalau AAI tidak relevan dengan kehidupan  intelektual mahasiswa.

          Sementara untuk masalah pelaksanaan AAI kedepannya (Tahun Ajaran Baru) sebanyak 60 responden menyatakan setuju dan 30 responden menolak. Ini berarti mengindikasikan bahwa AAI masih dianggap relevan untuk mendidik akhlak dan aqidah Mahasiswa baru. Hal ini juga menerangkan rasa percaya yang besar pada AAI.

AAI tahun depan

          Data yang kami peroleh juga menunjukan bahwa AAI tidak mengganggu proses perkuliahan lebih dominan. Sebanyak 57 responden menganggap bahwa AAI sama sekali tidak mengganggu proses belajar dan segala aktivitas perkuliahan. Sedangkan ada 33 responden yang keberatan dengan adanya AAI dan merasa terganggu aktivitas belajarnya.

mengganggu proses kuliah

          AAI memang tetap berjalan akan tetapi hanya di beberapa fakultas tertentu. Seperti halnya yang terjadi pada Fakultas Biologi dan Fakultas Kedokteran. Seperti menjadikan kegiatan AAI lebih variatif dan tidak membosankan. Terobosan-terobosan baru juga tak jarang dikembangkan, seperti mengadakan kegiatan outbound. Selain itu penempatan dua orang pembina dalam satu mentoring juga dinilai sangat membantu melancarkan kegiatan. Apalagi hal tersebut juga ditunjang dengan pengaturan struktur kegiatan dan kepengurusan yang tertata rapi.

          Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL). Eksistensi AAI semakin terkikis oleh permasalahan yang ada, seperti hilangnya minat mahasiswa pada AAI. Salah satu penyebab adalah tidak adanya waktu pertemuan yang efektif antara mahasiswa dan mentor. Selain itu, struktur kepengurusan yang terbengkalai juga mengakibatkan mekanisme pelaksanaan AAI menjadi carut-marut. Hal inilah yang membuat AAI kurang berkiprah di FISIPOL dan hampir di seluruh kawasan Sosio Humaniora. Meninjau dari kasus tersebut pada  akhirnya kebijakan masing-masing fakultas lah yang menentukan urgensi AAI. Lucunya, apa respon rektorat terkait ketimpangan kebijakan AAI di setiap fakultas? Sebenarnya apakah mereka serius dalam menyetujui program ini? Seperti yang telah mereka lakukan 27 tahun lalu  [Bagus Zidni I.N, Muhammad Aji M].

Administrator

See author's posts

AAIAAI di UGMAgama IslamKebijakan Kampus
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal

Suci Lestari Yuana: Ojol sedang Dijajah

Hajriansyah: Seni Realisme Revolusioner Lukiskan Semangat Perlawanan Rakyat

Muhidin M. Dahlan: Ekosistem Aktivis Pengaruhi Disorientasi Aktivisme

Firhandika Santury: Perjuangan Hak Pekerja Seks Bukan Sekadar...

Fatia Maulidiyanti: Penempatan Militer di Papua Itu Ilegal

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga DIY

    Oktober 5, 2026
  • Kiri yang Diabaikan

    Oktober 1, 2026
  • Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?

    September 24, 2026
  • Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal

    September 24, 2026
  • Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

    September 18, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM