
©Sadewa/Bal
“Udah perempuan, WNI lagi, double kill banget,” ujar salah seorang orator dalam aksi yang digelar oleh komunitas Ibu Berisik di Titik Nol Kilometer Yogyakarta pada Jumat sore, (31-10). Aksi ini diselenggarakan sebagai bentuk protes terhadap pemerintah sejumlah kebijakan pemerintah yang carut marut. Selain komunitas Ibu Berisik, aksi ini diikuti oleh beragam komunitas, kelompok seniman, para pemuda, anak-anak, serta berbagai elemen masyarakat lain. Aksi dilakukan dengan berbagai kegiatan, seperti orasi, live painting, bernyanyi bersama, dan doa bersama. Selama kegiatan, pukulan panci dan suara klakson turut dibunyikan untuk meramaikan agenda sore itu.
Dalam aksi ini, komunitas Ibu Berisik menyampaikan keluh kesah mereka sebagai warga negara Indonesia dari sudut pandang perempuan. Dita (bukan nama sebenarnya) selaku massa aksi menyoroti bahwa isu nasional seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak ke hidup perempuan. “Dari mulai kebakaran hutan, MBG, [dana penanggulangan-red] bencana yang dikorupsi, segala macam yang merugikan bangsa dan negara termasuk anak-anak dan perempuan,” tutur Dita.
Selain karhutla dan MBG, Surmi (bukan nama sebenarnya), salah seorang massa aksi, menyoroti kebijakan pajak pembalut sebesar 12% yang membebani perempuan. Ia mengeluhkan kebijakan tersebut karena pembalut merupakan kebutuhan dasar bagi perempuan. “Tega-teganya kita dipajekin untuk pembalut,” keluhnya.
Pernyataan Surmi dalam orasinya tersebut didukung oleh bait puisi yang disampaikan Tiara. Keduanya sependapat bahwa sulitnya akses kebutuhan dasar menunjukkan bahwa pemerintah sengaja mempersulit posisi mereka sebagai perempuan. Menurutnya, hal tersebut membuat perempuan harus merogoh kocek lebih banyak. “Bahkan untuk menjadi perempuan saja rasanya semakin mahal di negeri ini,” seru Tiara dalam puisinya. Ia juga mempertanyakan alasan akses pembalut yang digunakan perempuan sebagai kebutuhan dasar justru dipersulit.
Selain Surmi dan Tiara, salah seorang peserta aksi bernama Astrid turut menyuarakan kesulitannya sebagai pemilik kedai sederhana. Ia menilai bahwa harga yang ditetapkan oleh pasar hari ini cukup menyulitkan dirinya untuk membeli kebutuhan logistik dalam berdagang. “Saya beli timun kemarin Rp12.000 cuma dapat dua. Semua pemilik warung yang saya kenal itu bicara soal harga yang terlalu tinggi untuk semuanya,” ujar Astrid.
Selain isu tersebut, komunitas Ibu Berisik juga membawakan tuntutan lain perihal keberadaan organisasi masyarakat (ormas). Mereka menyerukan untuk menghentikan gerakan-gerakan ormas yang marak terjadi di Yogyakarta. “Stop intimidasi dan hentikan mobilisasi warga sebagai aparat keamanan tak berseragam,” kata Gendis (bukan nama sebenarnya), seorang massa aksi.
Atas berbagai persoalan yang ada, Dita berharap pemerintah segera memberikan solusi. Ia menilai pemerintah seharusnya memiliki kapabilitas untuk menangani sejumlah masalah yang sedang terjadi, seperti karhutla. “Harusnya dengan segala teknologi yang kita punya, dengan segala air yang disemprotin ke mahasiswa untuk bubarin demo, bisa untuk memadamkan kebakaran hutan,” ungkap Dita.
Ozi selaku juru bicara dari komunitas Ibu Berisik mengatakan bahwa aksi ini digelar karena para ibu ingin memperjuangkan lingkungan yang sehat dan negara dengan perekonomian stabil bagi generasi mendatang. Ia menyebut bahwa para ibu terus bersuara karena memikirkan masa depan anak-anak mereka. “Kita nggak mau mewarisi negara yang hutangnya triliunan rupiah,” pungkas Ozi.
Penulis: Amru Arafat, Anindiyamaya Candra Putri, Dionysius Nugroho Danumurti (Magang)
Penyunting: Adhiyaksa Wahyu
Fotografer: Rafael Franz Marvelous Bhasadeva (Magang)