Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?
Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat
Taufiqurrahman: Produksi Pengetahuan Tanpa Komersialisasi Bukan Upaya Mustahil
LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KABARKILAS

Ketika Kekhawatiran dan Kreativitas Bergumul

Oktober 4, 2014
©Ahmad.bal

©Ahmad.bal

Banyak peserta terkejut ketika Made ‘Bayak’ Muliana mengeluarkan kantong plastik berisi sampah dan meletakkannya di atas meja. “Ini yang saya temukan ketika tadi berjalan beberapa meter saja. Itu pun hanya di sebelah kiri,” terangnya. Pemuda Bali yang dikenal sebagai pelukis ini menyampaikan kekesalannya dalam program utama Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) Kamis (2/10) lalu di Indus Restaurant bertajuk “A Creative Change”.

“Ketika banyak turis datang, yang kita pikirkan hanya bekerja sekeras mungkin untuk mendapatkan dolar sebanyak yang kita bisa. Kita lupa bahwa kebudayaan dan lingkungan adalah hal yang harus dipikirkan keberlangsungannya,” ujar Made. Menurutnya, hal ini yang kemudian menimbulkan budaya konsumerisme. Dahulu kala, makanan yang dijajakan dikemas dengan bahan-bahan organik, semisal daun pisang. “Sekarang semuanya serba plastik,” tambahnya.

Inilah yang menginspirasinya membuat gerakan “Plasticology”, gabungan dari kata “plastic” dan “ecology”. Gerakan ini melakukan kampanye untuk mengelola sampah plastik agar tidak merugikan bagi kelestarian lingkungan. Ia pun memperlihatkan slideshow berisi karya lukisannya yang berupa seorang penari tradisional Bali dengan lambang perusahaan-perusahaan multinasional dalam kemasan plastik seakan disematkan begitu saja. “Ini menciptakan semacam paradoks antara keindahan dan kesemrawutan,” terangnya.

Seperti tajuknya, program ini menghadirkan pegiat lingkungan yang menggunakan media-media unik dan kreatif. Selain Made, dihadirkan pula Gede Robi Supriyanto, personil band indie Navicula. Ia memperlihatkan video klip “Orangutan” yang memperlihatkan betapa tersiksanya orangutan ditangkap dan dibawa ke kota untuk mainan manusia. Selain itu, ada pula Celia Gregory, pencetus Marine Foundation, sebuah yayasan yang melakukan gerakan konservasi terumbu karang. Yayasan ini menggunakan patung dengan berbagai macam rupa sebagai media menumbuhkan terumbu karang.

“Apa yang membuat kalian begitu terdorong melakukan semua ini?” tanya Suzy Hutomo, moderator diskusi kali ini. Robi pun menjawab, kekhawatiran akan nasib anak cucu kelak adalah salah satunya. Ia tidak merasa lelah sekalipun harus melakukan kampanye di berbagai tempat karena media yang ia gunakan merupakan sesuatu yang ia suka. “Kita ingin menyadarkan banyak orang, bahwa hal kecil yang kita lakukan bisa berdampak sangat besar,” pungkas Made. [Ahmad Syarifudin]

 

Administrator

See author's posts

kreativitasplasticologyuwrf
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?

    September 24, 2026
  • Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal

    September 24, 2026
  • Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

    September 18, 2026
  • Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian Lapangan Kerja

    September 15, 2026
  • Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang Tak Terusik

    September 12, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM