
©Aiken/Bal
“[Represi aparat-red] sangat menyeramkan bagi kami,” ucap salah seorang paramedis, Kinan (bukan nama sebenarnya), pada Rabu malam, (28-10). Hari itu, massa aksi yang terdiri dari berbagai elemen, mulai dari aliansi mahasiswa, suporter sepak bola, hingga masyarakat umum menggelar unjuk rasa di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Nahas, aksi tersebut berakhir dengan brutalitas aparat yang berlanjut hingga Kamis dini hari, (29-10).
Aksi menjadi ricuh kala barikade polisi mencoba merangsek maju untuk membubarkan massa aksi. Rahul (bukan nama sebenarnya), salah seorang massa aksi yang berada di dekat lokasi aksi, mengatakan pembubaran tersebut bermula ketika muncul tindakan provokasi yang dilakukan dari arah barikade polisi. “Ada kayak berapi-api [petasan-red] dilempar dari belakang barikade,” ujarnya.

Barikade aparat kepolisian. ©RJ/Bal
Tak lama kemudian, Rahul melihat sekumpulan anggota organisasi masyarakat (ormas) ikut serta dalam barisan aparat kepolisian dengan jumlah yang sangat banyak. Selain Rahul, Kinan yang sedang berjaga di sekitar Malioboro Mall juga melihat kelompok tersebut. “Ormas itu di belakang barikade polisi atau mungkin sebaris dengan barikade polisi, tapi mereka di balik tameng polisi.” tuturnya.
Menurut Kinan, sekelompok anggota ormas tersebut melempari batu dari Jalan Perwakilan ke arah massa aksi. Ia mengatakan bahwa lemparan batu itu telah melukai sejumlah massa aksi. Selain batu, Messi (bukan nama sebenarnya), salah seorang massa aksi, melihat beberapa anggota ormas juga membawa kayu, bambu, serta senjata tajam seperti parang. “Ormasnya itu sudah menyiapkan peralatan tempurnya,” tutur Messi.
Akibat kekerasan tersebut, Kinan memperkirakan terdapat empat hingga lima orang yang terluka selama aksi yang berlangsung antara pukul 19:00 hingga 20:00 WIB. Menurut pengamatannya, sebagian besar massa aksi yang menjadi korban kekerasan mengalami luka di kepala, selain di tangan dan kaki. “Pelipisnya itu luka bukan karena lemparan, tapi karena peluru karet,” ungkapnya. Selain itu, ia mendapati beberapa korban mengalami patah tulang dan sesak napas.
Banyaknya korban luka tersebut tak dihiraukan oleh aparat kepolisian. Pasalnya, Kinan mengatakan bahwa setelah itu polisi turut mengerahkan satu mobil water cannon untuk mengusir massa aksi. Ia menilai penyemprotan tersebut dilakukan tanpa mempertimbangkan keberadaan tim medis dan korban yang sedang dirawat. “Bahkan posisinya ketika masih di [depan-red] DPRD itu kepalanya [massa aksi-red] ada yang lagi bocor, lagi dijahit, malah disemprotin water cannon,” ujar Kinan.
Setelah pengerahan water cannon, gas air mata ditembakkan berkali-kali ke arah massa aksi yang mulai bergerak mundur menuju arah Tugu Yogyakarta. Kejadian ini membuat tenaga medis kembali menjadi korban. “Kawanku salah satu anggota paramedis itu sampai sesak napas yang parah dan kesulitan untuk bisa bernapas kembali,” ungkap Kinan. Akibat tembakan gas air mata tersebut, menurut Kinan, membuat anggota paramedis jalanan terpencar ke berbagai titik.
Dampak gas air mata turut dirasakan oleh masyarakat yang tidak mengikuti aksi. Anjani (bukan nama sebenarnya), pengendara yang sedang melintas di utara Tugu Yogyakarta, mengaku matanya perih meski berada cukup jauh dari titik penembakan. Ia lantas menyayangkan adanya penembakan tersebut karena khawatir akan keselamatannya saat berkendara. “Terlalu represif menurut saya menembakkan gas air mata di titik seperti itu,” ujarnya.
Seolah tak cukup dengan menembakkan water cannon dan gas air mata, aparat turut merepresi pihak yang memberi bantuan kemanusiaan kepada massa aksi. Menurut kabar yang Kinan terima, orang yang mengirim bantuan logistik medis mendapat tekanan berupa perampasan air dari seseorang terduga anggota ormas. “Itu bentuk kekerasan yang menurutku sangat parah,” tuturnya. Sebab, bagi Kinan, logistik medis sangat bergantung pada sumbangan tersebut.
Aksi yang diliputi berbagai kekerasan tersebut berujung dengan penangkapan massa aksi di beberapa titik. “Massa ditarik, dilempar, dan dipukulin,” tutur Tina. Kendati demikian, aparat masih melakukan represi meski mengetahui bahwa massa aksi berada di titik evakuasi.
Penangkapan massa aksi berlanjut hingga Kamis (29-10), sekitar pukul 01:30 WIB. Saat itu, Kinan dan rekannya menemukan seorang mahasiswa dipapah seorang pria yang mengenakan hoodie hitam dan helm mirip peserta aksi di sekitar Tugu Yogyakarta. Pria yang diikuti oleh dua orang dengan sepeda motor tersebut menemui korban dan menyebut akan membawanya ke polisi. Menurut pengakuan korban kepada Kinan, korban dikejar setelah memotret ke arah polisi, lalu dipukuli dengan tongkat hingga kakinya tidak bisa digerakkan. “Ini adalah tindakan penculikan karena kedua bapak ini nggak jelas siapa mereka,” tegasnya.
Terkait represi ormas tersebut, Messi mengaku sempat mendengar klarifikasi dari pihak kepolisian bahwa mereka hanyalah tukang parkir yang bergerak secara spontan. Namun ia mengaku tidak percaya akan dalih tersebut. “Nggak mungkin spontan sampai seniat itu dan langsung terorganisir,” ucapnya. Messi menduga ada kerja sama antara aparat kepolisian dan ormas di balik represi tersebut.
Penulis: Reyhan Jauza Dani Firmansyah
Penyunting: Sulthan Zidan Heydar Ahkam
Fotografer: Aiken Gimnastiar dan Reyhan Jauza Dani Firmansyah