Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Aksi DPRD DIY Berujung Represi oleh Polisi dan...
Rektorat UGM Enggan Tanda Tangani MoU Penyelesaian Isu...
Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi...
Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...
Kiri yang Diabaikan
Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?
Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Aksi DPRD DIY Berujung Represi oleh Polisi dan Terduga Preman

Oktober 25, 2026

©Pangestu/Bal

Pada Selasa (20-10), berbagai elemen masyarakat melakukan aksi demonstrasi di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Massa aksi yang hadir sejak pukul 10.00 WIB tersebut menuntut pertanggungjawaban rezim Prabowo-Gibran atas kekacauan negara selama dua tahun kekuasaannya. Namun aksi justru berujung dengan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kepolisian dan sekelompok preman. Selain itu, aksi ini juga mengakibatkan sejumlah massa ditahan beberapa saat oleh pihak kepolisian untuk diinterogasi.

Sebelum tindakan kekerasan terjadi, pada pukul 18.39 WIB, massa aksi sempat mendesak pihak DPRD DIY beserta seluruh jajaran fraksi agar dapat melangsungkan dialog di dalam gedung bersama semua massa aksi. Namun, pihak DPRD menolak permintaan tersebut. “Kalau ada yang masuk, semuanya nanti minta masuk, terus nanti masalah keamanan juga,” dalih Yan, perwakilan anggota DPRD DIY. 

“Ini rumah rakyat, bukan gedung kaum oligarki,” seru salah satu massa aksi menanggapi penolakan pihak DPRD. Penolakan ini lantas membuat massa aksi berusaha merangsek masuk ke dalam gedung. Nahas, barikade aparat kepolisian yang menutup rapat pintu gedung justru menghalangi massa. Akibatnya, situasi semakin memanas hingga membuat massa aksi terlibat dorong-dorongan dengan aparat kepolisian. Pada saat yang sama, sekitar pukul 20.40 WIB, sekelompok orang terduga preman memasuki area DPRD dan bergabung dengan barisan polisi di area samping gedung.     

Di tengah situasi tersebut, sekitar pukul 21.30 WIB, terdengar suara ledakan keras dan tebaran asap dari arah teras gedung secara tiba-tiba. “Saya lihat ada yang ngelemparkan [petasan-red],” tutur Fafa (bukan nama sebenarnya), salah seorang massa aksi. Ledakan ini disusul oleh kemunculan aparat kepolisian dari arah gedung menuju gerbang keluar DPRD.  Berdasarkan pengamatan BALAIRUNG, aparat yang beratribut lengkap datang untuk menendangi dan memukuli massa hingga keluar area DPRD. 

Barikade polisi beratribut lengkap di depan DPRD DIY
©Alima/Bal

Ketika massa aksi berlarian keluar,  sekelompok preman terlihat menunggu massa aksi di luar gedung DPRD. Menurut Fafa, mereka memukuli massa menggunakan berbagai macam senjata seperti scaffolding, cangkul, dan kayu panjang. Fafa mengatakan bahwa beberapa preman tersebut juga mengejar massa aksi yang mencoba menyelamatkan diri, lalu menyeret dan memukulinya. “Saya ini diseret ke trotoar depan hotel itu ke arah DPRD, dipukulin, ditendang, dan ditonjok semuanya itu,” tuturnya.

Selain Fafa, salah seorang tenaga medis juga tak luput menjadi korban kekerasan para preman. Saat keributan pecah, tampak salah seorang tenaga medis dikejar oleh preman di depan gedung DPRD DIY. Saat dikejar, tenaga medis tersebut mencoba berteriak untuk memberitahu bahwa dirinya seorang medis. “Medis! Medis!” serunya dengan panik. Namun, sekelompok preman tetap memukulinya hingga terjatuh. Alih-alih menolong,  pihak kepolisian yang berada di dekat tempat kejadian justru tidak melakukan upaya pencegahan.

Setelah rentetan kekerasan yang terjadi, para preman menahan beberapa peserta aksi untuk diserahkan ke pihak kepolisian yang ada di dalam gedung DPRD. Menurut Bobi (bukan nama sebenarnya), salah satu massa aksi, sebanyak 32 massa aksi sempat ditahan oleh kepolisian untuk diinterogasi. Berdasarkan pengakuannya, ia yang saat itu hadir mendampingi massa aksi melihat bahwa aparat kepolisian men-doxing massa aksi dengan mengecek dan merekam isi handphone mereka. Selain di-doxing, massa aksi juga kembali mendapat kekerasan dari kepolisian saat proses interogasi. “Diinjak-injak, dipukulin, gitu-gitu lah,” jelas Bobi. Massa aksi yang sempat ditahan tersebut, menurutnya, baru dibebaskan kembali pada Rabu (21-10) pukul 02.30 WIB. 

Penulis: Adhiyaksa Wahyu dan Reyhan Jauza Dani Firmansyah
Penyunting: Muhammad Muflihun
Fotografer: Alima dan Pangestu Ibnu
Kurator: Adhitia Sutanto

Redaksi

See author's posts

1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Rektorat UGM Enggan Tanda Tangani MoU Penyelesaian Isu...

Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi...

Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Aksi DPRD DIY Berujung Represi oleh Polisi dan Terduga Preman

    Oktober 25, 2026
  • Rektorat UGM Enggan Tanda Tangani MoU Penyelesaian Isu Kampus saat Hearing

    Oktober 23, 2026
  • Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi di Indonesia

    Oktober 17, 2026
  • Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga DIY

    Oktober 5, 2026
  • Kiri yang Diabaikan

    Oktober 1, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM