Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...
Kiri yang Diabaikan
Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?
Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
DIALEKTIKA

Menolak Lupa Kasus Palestina

April 16, 2012

“Sebagai saudara seakidah, umat muslim harus senantiasa berusaha mewujudkan perdamaian di Palestina,” ungkap Jamilatuzzahro, mahasiswa Statistika 2009. Aktivis Jamaah Salahudin (JS) UGM tersebut didaulat menjadi penanggung jawab program acara bertajuk “Caravan from Gaza”, Sabtu (14/4). Acara yang diselenggarakan di Ruang Seminar Timur FISIPOL UGM ini bertujuan untuk mengangkat kembali isu pendudukan Israel atas Palestina.

Dalam seminar ini, hadir empat orang pembicara: Abdurrahman Parmo, M. Fani Rahman, Fakher Nabeel, dan Yakhsyallah Mansur. Keempat pembicara merupakan aktivis peduli Palestina. Mereka  memaparkan pengalaman dan sudut pandangnya terkait penderitaan Palestina akibat pendudukan Israel. Dalam kesempatan itu, Aqil Wilda Arif, mahasiswa Teknik Mesin tampil sebagai moderator.

Acara diawali dengan sambutan ketua JS Arif Nurhayanto yang membacakan  surat dari Ust. Dzikrullah Wisnu, seorang relawan “Sahabat Al-Aqsha” yang saat ini tengah berada di Gaza. Dalam surat itu Dzikrullah mengingatkan umat muslim untuk senantiasa peduli dengan nasib Palestina yang tengah  tertindas di bawah jajahan kaum zionis. “Dalam pembukaan UUD 1945 kita tahu, kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka segala penindasan harus dihapuskan,” ungkapnya.

“Infrastrukstur dan sarana pendidikan hancur akibat invasi Israel,” tutur M. Fani Rahman. Pegiat Pro-U Media ini menyatakan keprihatinannya atas pendidikan anak-anak Palestina. “Padahal, anak-anak Palestina memiliki etos belajar yang tinggi,” terangnya. Ia menyatakan, dalam dua bulan mereka mampu menghapal 30 juz Al-quran.

Menyambung pembicaraan Rahman, Fakher Nabeel Mohammad Khalili, mahasiswa asal Palestina yang sedang menempuh pendidikan doktor di Fakultas Psikologi UGM, angkat bicara. Fakher menyesalkan selama ini media hanya berfokus pada persoalan Gaza. Padahal, kejahatan kemanusiaan oleh Israel berlangsung di seluruh wilayah Palestina. Contohnya di tepi barat, warga Palestina terkurung akibat tembok pembatas yang dibangun Israel. Apalagi dengan adanya ratusan checkpoint yang semakin membatasi aktivitas rakyat Palestina. Senada dengan pemaparan Fakher, Abdurrahman Parmo menceritakan pengalamannya saat tinggal di Palestina. Ia mengurai kejahatan kemanusiaan Israel atas rakyat Palestina yang menjadi tahanan.

“Mengapa kita harus jauh-jauh memikirkan Palestina, padahal Indonesia saja banyak masalah?” pertanyaan tersebut dilontarkan pembicara ketiga, Yakhsyallah Mansur. Setelah membiarkan peserta berpikir sejenak, ustad dari Bogor itu menjelaskan jawabannya. Menurutnya, dari berbagai masalah yang ada di dunia, permasalahan Palestina merupakan problem utama. “Apabila masalah Palestina tuntas, niscaya permasalahan yang lain dapat teratasi,” terangnya.

Melalui seminar ini Ika Ari Setyaningrum, mahasiswa Akuntansi 2008 mengaku mendapat persepsi baru dalam melihat permasalahan Palestina. Ia berharap, kegiatan seperti ini dapat terus diadakan demi mengangkat Palestina menjadi isu utama, terutama di kalangan mahasiswa. “Masih banyak mahasiswa yang acuh, bahkan mencibir,” keluhnya.[Mukhammad Faisol Amir, Khalimatu Nisa]

 

 

 

 

 

Administrator

See author's posts

1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Pemilihan Pengurus Baru KATGAMA 2015

Tokoh Nasional Ajak Lawan Korupsi

Tindak Kekerasan Berkedok Perbedaan

UUK Diprediksi Tidak Panjang Umur

Bahas Perubahan Iklim, Gandeng Masyarakat Dunia

Panggung Bebas, Seni dalam Komunitas Berbeda

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga DIY

    Oktober 5, 2026
  • Kiri yang Diabaikan

    Oktober 1, 2026
  • Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?

    September 24, 2026
  • Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal

    September 24, 2026
  • Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

    September 18, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM