Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?
Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat
Taufiqurrahman: Produksi Pengetahuan Tanpa Komersialisasi Bukan Upaya Mustahil
LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KABARKILAS

Peranan Islam Dalam Negara Demokrasi

Mei 26, 2011

Kamis (26/5) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Ibnu Kholdun dan Al Khawarizmi mengadakan bedah buku tentang Islam dan demokrasi. Dialog yang diadakan di GKU FISIPOL UGM tersebut bertajuk Demokrasi Dibawah Bayangan Mimpi N-11: Dilema Politik Islam Dalam Peradaban Modern.

Acara ini mendatangkan 4 pendedah sekaligus, Abdul Munir Mulkhan dan Bilveer Singh selaku penulis, Fahmi Prihantoro dosen FIB UGM, dan Ahmad Norma Permata selaku dosen UIN Sunan Kalijaga.

Pemaparan terkait buku yang disampaikan oleh Ahmad Norma dan Fahmi Prihartoro menjadi topik awal dari bedah buku ini. Norma menjelaskan tentang keadaan politik islam masa kini yang menilai politik islam berada pada titik yang tidak pasti. Ketidakpastian yang dimaksud ialah situasi politik islam dirasa menjadi ukuran dari lahirnya orang-orang ekstrimis dalam islam. Kehadiran N-11 atau dikenal dengan nama NII, terjadi karena beberapa faktor selain titik jenuh dan ketidakpastian. “Kegalauan terhadap sistem yang ada dan permainan politik aparat keamanan bisa menjadi salah satu faktornya,” ujar Ahmad.

Dalam konteks lain, Fahmi membeberkan peran pendidik dalam islam yang konservatif. Perbedaan pemahaman yang banyak terjadi dalam islam, tidak disikapi dengan bijak oleh umatnya. “Itu hanya persoalan pemahaman, sangat wajar apabila ada perbedaan,” paparnya.

Selain penjelasan Fahmi, Bilveer Singh menambahkan paparan isi buku tersebut. “Indonesia merupakan negara yang strategis dan aman, tapi ada perbedaan pemikiran yang lebih mengacu pada kekerasan,” ujarnya. Hal ini terlihat dari pemaparan kisah Bilveer ketika mengunjungi Indonesia tahun 1992 yang berbeda dengan tahun 2001 keatas. Perbedaan yang mencolok dari tahun tersebut adalah meningkatnya kekerasan yang mengatasnamakan agama. Ia juga menjelaskan bahwa mahasiswa mempelajari islam hanya melalui internet dan buku saja. “Dengan demikian mahasiswa seringkali terjebak pada konsep jihad, karena tidak didampingi tutor dalam memahami islam.” ungkapnya. Hal ini menjadi dasar ketika hal yang dipelajarinya menjadi melenceng dalam penafsiran  islam sendiri. Disamping itu dengan tidak adanya tutor, konsep syahid ataupun jihad seringkali tidak dapat dibedakan antara rasa dan rasionya.

Abdul Munir pun tidak ketinggalan menguraikan isi bukunya. Ia berpendapat bahwa latar belakang intelektual orang islam sendiri berbeda. Islam yang dilandasi sebagai gerakan budaya, akan lebih menerima perbedaan interpretasi tersebut. “Latar belakang intelektual umat islam ini, akan membawa kita pada islam sebagai gerakan kebudayaan,” ujarnya. Abdul Munir menyinggung soal teologi islam untuk menjawab banyaknya perbedaan pemikiran dalam islam. “re-interpretasi dan pembaharuan menjadi jalan untuk memahami konteks yang selalu berubah” tambahnya.

Selepas uraian singkat dari semua para pendedah, sesi selanjutnya diisi dengan tanya jawab. Abdul Munir menjawab dengan tegas salah satu pertanyaan tentang tidak bisa berdampingannya demokrasi dan islam. “Jika melihat sejarah Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), orang islam modernis menampilkan jiwa zaman juga tafsir dalam beberapa dasar negara. Hal itu menjadi bukti islam dan demokrasi bisa berdampingan,” pungkas guru besar UIN Sunan Kalijaga ini. [Rizki]

Administrator

See author's posts

Abdul Munir MulkhanBilveer SinghdemokrasiislamN-11
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat

1 komentar

pengayaan Desember 2, 2015 - 18:33

makasih sudah sedikit mencerahkan tp sayang kurang komplit pdhl lg btuh buat tgas 🙂

Reply

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?

    September 24, 2026
  • Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal

    September 24, 2026
  • Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

    September 18, 2026
  • Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian Lapangan Kerja

    September 15, 2026
  • Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang Tak Terusik

    September 12, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM