Bijak Memantau berkolaborasi dengan Korps Mahasiswa Politik Pemerintahan (KOMAP) Universitas Gadjah Mada (UGM), InterAksi, Lab Demokrasi, dan BPPM Balairung UGM menggelar diskusi publik bertajuk “Kuliah Mahal, Kerja Susah: Apa yang Salah?”. Diskusi yang diselenggarakan pada Sabtu, (12-09) di Auditorium Lantai 4 Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM ini menyoroti fenomena neoliberalisme pendidikan, melonjaknya biaya kuliah, serta ketimpangan serapan pasar tenaga kerja. Forum diskusi ini menghadirkan empat narasumber: Olivia Subandi, perwakilan Aliansi Pendidikan Gratis; Amalinda Savirani, Guru Besar Departemen Politik dan Pemerintahan UGM; Media Wahyu Askar, Pendiri Center of Economic and Law Studies (CELIOS); dan Bintang Muhammad Surya, perwakilan Serikat Mahasiswa UGM.
Dalam diskusi ini, Olivia menyoroti ketimpangan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang seolah mengabaikan sektor pendidikan. Memakai hasil temuan CELIOS, ia menyoroti alokasi APBN di bidang pendidikan justru didominasi oleh MBG. Dari 760 triliun anggaran pendidikan, Olivia menyebut MBG mendapat porsi paling banyak, yakni sebesar 223 triliun. Padahal, menurutnya, anggaran sebesar 65—95 triliun sebenarnya bisa digunakan untuk menggratiskan biaya pendidikan tinggi selama satu tahun penuh. “Sangat kecil jika dibandingkan dengan biaya pembangunan MBG [Makan Bergizi Gratis-red], “tegas Olivia.
Nahas, sedikitnya anggaran pendidikan tinggi berimplikasi pada tingginya nominal Uang Kuliah Tunggal. Akibatnya, Olivia mengungkapkan bahwa terdapat 60 ribu mahasiswa baru yang terpaksa mengurungkan niat untuk mendaftar ulang. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa kampus kini bertindak layaknya instansi penjual. Sementara itu, mahasiswa dan orang tua diposisikan sekedar sebagai konsumen. “Pendidikan idealnya adalah taman gratis yang bisa diakses, tetapi sekarang seolah pendidikan adalah mal, dan barangnya harus kita beli,” ujar Olivia.
Menambahi Olivia, Mesa juga mengeluhkan tingginya biaya hidup dan pendidikan yang memaksa mahasiswa mencari penghasilan tambahan. Menurutnya, hal tersebut telah mengorbankan fokus utama mahasiswa untuk belajar dan berproses. “Efek seperti itu yang membuat kita enggak bisa jadi pembelajar sepenuhnya,” jelasnya.
Melihat fenomena tersebut, Amalinda menyebutkan bahwa persoalan pendidikan tinggi tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial-ekonomi mahasiswa. Ia menilai bahwa pendidikan dan dunia kerja telah menggunakan logika supply ‘penawaran’ dan demand ‘permintaan’. “Kampus itu sebagai supplier, kemudian pasar tenaga kerja yang menyerap,” ujarnya.
Menurut Amalinda, persoalan juga muncul ketika terdapat ketidaksesuaian antara kompetensi yang dipersiapkan perguruan tinggi dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Ia melihat kondisi itu dari dua sisi, yaitu pendidikan yang diterima mahasiswa semasa kuliah dan lapangan pekerjaan yang mereka hadapi setelah lulus. “Demand-nya jauh lebih banyak daripada supply-nya. Jadi, yang nganggur dan butuh kerjaan itu jauh lebih banyak daripada jumlah lapangan kerja yang kita sediakan,” jelasnya.
Kurangnya ketersediaan lapangan kerja, menurut Askar, akan berdampak pada keberlangsungan hidup mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan. Ia mengungkapkan bahwa mahasiswa harus tetap mengeluarkan uang setelah lulus karena masa tunggu kerja yang lama. Berdasarkan data Sakernas (Survei Angkatan Kerja Nasional), Askar menyebutkan bahwa mahasiswa S-1 membutuhkan waktu 11 bulan untuk mendapat pekerjaan. “Berapa uang jajannya per bulan sekarang? Let’s say Rp1.500.000 dikali 11 bulan. Artinya, secara rata-rata, harus menyiapkan uang sekitar 17 jutaan setelah lulus sampai sebelum berangkat kerja. Itu uang orang tua biasanya,” ungkap Askar
Untuk mengantisipasi mahasiswa agar tidak menganggur selama 11 bulan, Askar menyebut salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah menambah pengalaman melalui magang. Kendati begitu, ia menilai bahwa praktik magang stru menempatkan mahasiswa dalam posisi rentan. “Di beberapa perusahaan itu sengaja mempekerjakan magang, seakan-akan orang itu adalah full time job, cheap labor,” ujarnya.
Penulis: Reyhan Jauza Dani Firmansyah dan Zahwa Amallia
Penyunting: Aditya Rizky Nugroho