“Itu [MBG-red] membuat jiwa seorang ibu sangat terhina,” seru Haryanti (bukan nama sebenarnya) dalam aksi damai Jalan Sore Pukul Panci pada Selasa, (08-09). Untuk kesekian kalinya, gerakan kolektif Ibu Berisik menggelar aksi sebagai bentuk protes atas pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Aksi ini diselenggarakan sebagai respons atas kasus keracunan MBG yang saat ini telah memakan korban sekitar 43.000 orang. Diikuti oleh masyarakat dari kalangan ibu-ibu hingga anak muda, aksi dalam bentuk jalan santai ini bergerak dari Tugu Golong Gilig menuju Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM). Sembari melintasi beberapa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), massa aksi menggelar protes simbolis berupa pemukulan panci dapur sebagai lambang perlawanan.
Saat aksi berlangsung, gerakan kolektif Ibu Berisik menuangkan kemarahan mereka lewat tuntutan dalam rilis pers. Tuntutan utamanya adalah mendesak pemerintah untuk segera menghentikan program MBG dan mengalihkan anggaran untuk pemulihan korban bencana alam. “MBG itu harus dievaluasi total. Kalau hasilnya kemudian ditemukan [korban keracunan-red], ditunda atau dihentikan saya kira itu yang paling penting,” terang Linda, salah seorang massa aksi yang juga merupakan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM.
Menurut Kalis, salah seorang massa aksi, program MBG telah membuat anak-anak menjadi korban keracunan massal dalam jumlah spektakuler. “Keponakan saya menerima [MBG-red] dan sudah pernah menjadi korban keracunan massal di salah satu Kabupaten Jawa,” ungkapnya. Selain Kalis, massa aksi lain bernama Banyu ikut menceritakan kasus keracunan MBG beberapa bulan lalu di sekolah adiknya.
Menambahi Kalis dan Banyu, Linda turut menyampaikan keprihatinannya terhadap kebijakan MBG. Ia merasa program MBG merupakan bentuk skala prioritas yang salah dari pemerintah. Sebagai seorang ibu, ia juga mengeluhkan berbagai kasus keracunan MBG yang telah memakan puluhan ribu korban, salah satunya di Sidoarjo. “Itu hak kita sebagai ibu yang selalu ingin memastikan kualitas terbaik bagi makanan anak-anaknya,” ucap Linda.
Alih-alih sibuk dengan program MBG, Haryanti merasa pemerintah seharusnya mengalihkan perhatian mereka untuk menanggulangi bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang problematik. Sebab, menurutnya, pemerintah justru absen dalam penanganan karhutla di Kalimantan. “Baru-baru ini ribuan atau ratusan manusia dan satwa terbakar di Kalimantan, mereka [pemerintah-red] juga tidak bergeming,” ujarnya.
Juminten (bukan nama sebenarnya), salah seorang massa aksi, menambahkan bahwa selain menyuarakan keresahan terhadap program MBG, aksi ini juga menjadi momentum bagi para ibu untuk melakukan perlawanan. Lebih lanjut, ia berharap aksi ini dapat meningkatkan kesadaran para ibu atas kondisi negara hari ini. “Kami ingin membagi keberanian biar mereka tahu bahwa nggak semua orang punya privilege untuk turun ke jalan,” pungkas Kalis.
Reporter: Aditya Fernando, Aurakasih Ceta, dan Alima Tasnim
Penulis: Aditya Fernando dan Aurakasih Ceta
Penyunting: Rifky Wildhani
Fotografer: Alima Tasnim
Kurator: Hafiz Osmond