Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat
Taufiqurrahman: Produksi Pengetahuan Tanpa Komersialisasi Bukan Upaya Mustahil
LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat
Suci Lestari Yuana: Ojol sedang Dijajah
MBG untuk siapa
Ayo Main Kejar-Kejaran!
Sigit Heru Murti: Tata Kelola Biaya KKL Itu...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang Tak Terusik

September 12, 2026

“Itu [MBG-red] membuat jiwa seorang ibu sangat terhina,” seru Haryanti (bukan nama sebenarnya) dalam aksi damai Jalan Sore Pukul Panci pada Selasa, (08-09). Untuk kesekian kalinya, gerakan kolektif Ibu Berisik menggelar aksi sebagai bentuk protes atas pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Aksi ini diselenggarakan sebagai respons atas kasus keracunan MBG yang saat ini telah memakan korban sekitar 43.000 orang. Diikuti oleh masyarakat dari kalangan ibu-ibu hingga anak muda, aksi dalam bentuk jalan santai ini bergerak dari Tugu Golong Gilig menuju Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM). Sembari melintasi beberapa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), massa aksi menggelar protes simbolis berupa pemukulan panci dapur sebagai lambang perlawanan.

Saat aksi berlangsung, gerakan kolektif Ibu Berisik menuangkan kemarahan mereka lewat tuntutan dalam rilis pers. Tuntutan utamanya adalah mendesak pemerintah untuk segera menghentikan program MBG dan mengalihkan anggaran untuk pemulihan korban bencana alam. “MBG itu harus dievaluasi total. Kalau hasilnya kemudian ditemukan [korban keracunan-red], ditunda atau dihentikan saya kira itu yang paling penting,” terang Linda, salah seorang massa aksi yang juga merupakan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM.

Menurut Kalis, salah seorang massa aksi, program MBG telah membuat anak-anak menjadi korban keracunan massal dalam jumlah spektakuler. “Keponakan saya menerima [MBG-red] dan sudah pernah menjadi korban keracunan massal di salah satu Kabupaten Jawa,” ungkapnya. Selain Kalis, massa aksi lain bernama Banyu ikut menceritakan kasus keracunan MBG beberapa bulan lalu di sekolah adiknya.

Menambahi Kalis dan Banyu, Linda turut menyampaikan keprihatinannya terhadap kebijakan MBG. Ia merasa program MBG merupakan bentuk skala prioritas yang salah dari pemerintah. Sebagai seorang ibu, ia juga mengeluhkan berbagai kasus keracunan MBG yang telah memakan puluhan ribu korban, salah satunya di Sidoarjo. “Itu hak kita sebagai ibu yang selalu ingin memastikan kualitas terbaik bagi makanan anak-anaknya,” ucap Linda.

Alih-alih sibuk dengan program MBG, Haryanti merasa pemerintah seharusnya mengalihkan perhatian mereka untuk menanggulangi bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang problematik. Sebab, menurutnya, pemerintah justru absen dalam penanganan karhutla di Kalimantan. “Baru-baru ini ribuan atau ratusan manusia dan satwa terbakar di Kalimantan, mereka [pemerintah-red] juga tidak bergeming,” ujarnya.

Juminten (bukan nama sebenarnya), salah seorang massa aksi, menambahkan bahwa selain menyuarakan keresahan terhadap program MBG, aksi ini juga menjadi momentum bagi para ibu untuk melakukan perlawanan. Lebih lanjut, ia berharap aksi ini dapat meningkatkan kesadaran para ibu atas kondisi negara hari ini. “Kami ingin membagi keberanian biar mereka tahu bahwa nggak semua orang punya privilege untuk turun ke jalan,” pungkas Kalis.

Reporter: Aditya Fernando, Aurakasih Ceta, dan Alima Tasnim
Penulis: Aditya Fernando dan Aurakasih Ceta
Penyunting: Rifky Wildhani
Fotografer: Alima Tasnim
Kurator: Hafiz Osmond

Redaksi

See author's posts

1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat

Koalisi Persma DIY dan AJI Yogyakarta Kecam Prabowo...

Logika Dominasi di Balik Upaya Transisi Hijau

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang Tak Terusik

    September 12, 2026
  • Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan dan Kekerasan Aksi 1 September

    September 7, 2026
  • Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

    September 6, 2026
  • Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

    September 1, 2026
  • Taufiqurrahman: Produksi Pengetahuan Tanpa Komersialisasi Bukan Upaya Mustahil

    Agustus 27, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM