Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat
Taufiqurrahman: Produksi Pengetahuan Tanpa Komersialisasi Bukan Upaya Mustahil
LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat
Suci Lestari Yuana: Ojol sedang Dijajah
MBG untuk siapa

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Komedi-Satir Kritik Demokrasi dalam Teater “Kongres Para Setan”

Agustus 19, 2024

©Natasya/Bal

Social Movement Institute (SMI) menampilkan Teater Suluh berjudul “Kongres Para Setan” yang dipentaskan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta pada Jumat (16-08). Teater ini ditampilkan untuk menunjukkan betapa ironisnya kondisi demokrasi yang ada di Indonesia. Lakon “setan” dalam teater ini memiliki peranannya masing-masing, yaitu merepresentasikan suara rakyat kecil, aparat yang represif, pejabat yang mencari kambing hitam, hingga mahasiswa yang menjadi korban Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Selain itu, teater ini juga mengajak penonton untuk melihat cara UU dibuat tanpa transparansi sehingga berujung pada kemerosotan kehidupan demokrasi maupun keadilan di Indonesia.

Teater dibuka dengan pembacaan puisi Wiji Thukul berjudul “Kenangan Anak-Anak Seragam” dan penampilan balet. Lalu dilanjutkan dengan pengenalan latar horor dan para setan sebagai tokoh utama dan simbol suasana mencekam untuk menggambarkan ketidakadilan di Indonesia. Selain itu, dikenalkan pula para aktor “Kongres Para Setan” yang melibatkan anak muda dari berbagai latar belakang. Melalui teater ini, diharapkan mereka terbiasa untuk memberontak dan memihak ketika terdapat peraturan yang mengkriminalisasi rakyat Indonesia. 

Babak pertama teater menampilkan sikap represif pejabat melalui preman terhadap wong cilik yang direpresentasikan oleh petani. Pada babak kedua, kuliah umum berkumandang dari seorang rektor yang melarang mahasiswa melakukan demo dan menyebut setan sebagai musuh asli mahasiswa. Adegan ini dilanjutkan dengan demonstrasi dan kerusuhan serta penangkapan aktivis mahasiswa sebagai bentuk pembungkaman kebebasan berpendapat. Selanjutnya, lampu dimatikan dan babak ketiga dimulai, yakni “Kongres Para Setan.”

Berlatar di kuburan, tokoh pocong, suster ngesot, tuyul, dan genderuwo muncul mengadakan kongres. Dipimpin oleh genderuwo, pocong menguliti masalah-masalah yang ada di dunia manusia, seperti kenaikan uang kuliah tunggal yang tidak masuk akal dan problematika UU ITE. Selanjutnya, suster ngesot menguliti dosa-dosa pejabat, seperti korupsi dan perselingkuhan, serta mengkritik manusia yang selalu menyalahkan bisikan setan atas perbuatan mereka. Tuyul pun mengungkapkan bahwa manusia seringkali mengambil keuntungan untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya sendiri dan seringnya manusia berlindung pada topeng spiritual agama. Kongres para setan diakhiri dengan manifesto politik dan usulan tuyul untuk menuntut para manusia atas pencemaran nama baik setan ke pos polisi.

Masuk pada babak keempat, polisi menyeret mahasiswa yang melakukan demo ke balik jeruji besi. Di dalam penjara tersebut sudah terisi dua orang tahanan, yaitu seorang mahasiswa yang dilaporkan dosennya dan terjerat UU ITE karena keluh-kesahnya di media sosial serta seorang koruptor berompi oranye. Pada babak ini, dipertontonkan perilaku polisi sebagai aparat penegak hukum dengan mudahnya disuap oleh koruptor untuk membebaskannya. Selain itu, para setan yang telah mengadakan kongres juga turut serta dalam babak ini guna mempertontonkan sikap polisi yang mengabaikan berbagai kasus dengan berbagai alasan.

Dalam penutup pementasan teater, Eko Prasetyo selaku penulis naskah “Kongres Para Setan” menyebut teater ini sebagai gambaran pemerintahan yang semakin otoriter. Hal ini direpresentasikan oleh lakon setan yang mendiskusikan kebobrokan negara dalam pementasan. “Teater ini juga sebagai bentuk perlawanan terhadap kemerosotan tersebut,” lanjutnya.

Haris Azhar, seorang aktivis HAM yang sempat dikriminalisasi menggunakan UU ITE, juga turut hadir di tengah-tengah penonton. Menurutnya, teater tersebut memiliki gaya realis dan mudah untuk dipahami publik. “Dari sisi teknis garapannya memudahkan orang untuk memahami praktik kejahatan negara dalam bentuk teater,” pungkasnya ketika diwawancarai oleh BALAIRUNG seusai acara. 

Penulis: Enjeli Wahyul Ma’wa Septia dan Kaia Salma Luna Ayutie
Penyunting: Alfiana Rosyidah
Fotografer: Natasya Mutia Dewi

Redaksi

See author's posts

1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

    September 18, 2026
  • Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian Lapangan Kerja

    September 15, 2026
  • Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang Tak Terusik

    September 12, 2026
  • Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan dan Kekerasan Aksi 1 September

    September 7, 2026
  • Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

    September 6, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM