Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat
Taufiqurrahman: Produksi Pengetahuan Tanpa Komersialisasi Bukan Upaya Mustahil
LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat
Suci Lestari Yuana: Ojol sedang Dijajah
MBG untuk siapa

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

25 Tahun Pasca-Reformasi, Kebebasan Berserikat Pekerja Masih Dibatasi

November 1, 2023

©Fero/Bal

Sabtu (28-10), Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Teknik UGM menyelenggarakan gelar wicara yang berjudul “Kesadaran Kolektif Pasca Depolitisasi Kelas Pekerja Orde Baru”. Gelar wicara ini mendiskusikan dinamika kesadaran kolektif pekerja pasca depolitisasi Orde Baru. Dilaksanakan di Selasar Gedung SGLC Fakultas Teknik UGM, gelar wicara kali ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Andreas Budi selaku Dosen Departemen Sosiologi UGM dan Muchtar Habibi selaku Dosen Departemen Manajemen Kebijakan Publik UGM.

Diskusi dimulai dengan pemaparan dari Andreas tentang sejarah depolitisasi pada masa Orde Baru yang tidak hanya terjadi dalam dunia pekerja, tetapi juga terjadi dalam kehidupan kampus. Andreas menyoroti penerapan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) yang telah membungkam aktivisme mahasiswa saat itu. Terdapat pula upaya “penjinakan” bagi para pekerja dengan menggunakan Golongan Karya (Golkar) sebagai alat propaganda dengan mengeklaim dirinya sebagai partainya para golongan karya atau pekerja. “Maka, NKK/BKK juga dilakukan di kampus. Pekerja ditertibkan, bahkan kalau perlu akan dikonsolidasikan ke dalam Golongan Karya,” ujar Andreas.

Andreas menjelaskan bahwa perkembangan situasi sosial-politik masyarakat saat itu menumbuhkan kesadaran yang kemudian memunculkan gerakan reformasi. Namun, runtuhnya keotoriteran pada Orde Baru yang ditandai dengan Reformasi ternyata tidak banyak mengubah keadaan. Ia menyebutkan bahwa aktor-aktor yang berada di lingkaran kekuasaan Orde Baru justru melakukan reorganisasi. Hal tersebut menyebabkan mereka tetap dapat menduduki posisi penting di berbagai sektor yang ada di Indonesia. “Walaupun akhirnya terjadi reformasi, sebetulnya kita ini juga mendapati sebuah era yang sebetulnya tidak teramat jauh berbeda dengan apa yang terjadi di era Soeharto,” ungkap Andreas. 

Lanjut berbicara mengenai serikat pekerja, Habibi menjelaskan bahwa pada zaman Soeharto, hanya terdapat satu serikat yang direstui, yaitu Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Pasca-Reformasi, kebebasan berserikat diatur dalam UU No. 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh. Namun, menurut Habibi, usaha kebebasan berserikat ini hanya seperti embusan angin belaka untuk para pekerja. Hal ini lantaran SPSI masih berkaitan erat dengan Orde Baru. “Serikat pekerja semacam ini sifatnya melayani kepentingan manajemen dan pemerintah, bukan melayani kepentingan pekerja,” terang Habibi.

Habibi mengungkapkan bahwa jumlah pekerja yang bergabung dalam serikat pekerja di Indonesia saat ini mencapai sekitar 5 juta pekerja dengan 1,5 jutanya merupakan anggota dari SPSI. Menurutnya, anggota SPSI berjumlah banyak karena organisasi ini bekerja sama dengan manajemen perusahaan. “Pekerja masuk perusahaan sudah otomatis jadi anggota SPSI tanpa mendaftar,” jelas Habibi. Hal ini berarti banyak pekerja yang secara tidak sadar telah mendaftarkan dirinya sebagai anggota.

Selain itu, Habibi mengungkapkan masalah lain yang mendesak pekerja, yakni adanya sistem fleksibilitas pasar tenaga kerja. Sistem ini muncul karena IMF (International Monetary Fund) memberikan pinjaman ke Indonesia untuk kepentingan ekonomi pada tahun 1997 sampai 2000 awal. “Salah satu perjanjiannya atau letter of intent-nya adalah Indonesia harus mengadopsi yang namanya labour market flexibility, yakni pasar tenaga kerja yang fleksibel,” jelasnya. 

Pasar tenaga kerja yang fleksibel tersebut, lanjutnya, memunculkan sistem kontrak dan alih daya dalam alur kerja. Hal ini menghadirkan kerentanan berserikat dalam kalangan pekerja. “Coba ambil kasus pekerja kontrak atau alih daya. Kalau Anda itu cuma dikontrak 6 bulan, anda punya keberanian nggak untuk berserikat?” tanya Habibi. Ia juga menambahkan bahwa pada realitanya jika pihak perusahaan mengetahui pekerjanya berserikat, kontrak dengan mudah tidak akan diperbarui.

Meskipun konsep kontrak dan alih daya menghambat kemampuan para pekerja untuk membentuk serikat, Andreas menggarisbawahi pentingnya kesatuan dalam mendukung hak-hak kolektif. Hal ini terlepas dari kendala-kendala struktural yang mungkin ada di negara ini. Tidak hanya menyasar pekerja formal, Andreas juga mengajak seluruh masyarakat UGM untuk berserikat. “Saya ingin mengatakan saja, teman-teman mahasiswa semua yang ada di sini dan mungkin juga seluruh UGM, berserikatlah!” serunya menutup gelar wicara tersebut.

Penulis: Clarissa Alyn, Hafidh Zidan Nur Ridho, dan Leoni Nevia Yesha (Magang)
Penyunting: Nandini Mu’afa
Fotografer: Fero (Magang)

Redaksi

See author's posts

14
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

    September 18, 2026
  • Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian Lapangan Kerja

    September 15, 2026
  • Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang Tak Terusik

    September 12, 2026
  • Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan dan Kekerasan Aksi 1 September

    September 7, 2026
  • Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

    September 6, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM