Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...
Kiri yang Diabaikan
Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?
Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KABARKILASREDAKSI

Warga Sukoharjo Tuntut Kembali Pencemaran Lingkungan PT RUM

Februari 25, 2022

©Ilham/Bal

Puluhan warga yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan (GPL) berkumpul di depan Tugu Perjuangan Rakyat di Desa Tegalrejo, Nguter, Sukoharjo pada Rabu (23-02). Mereka menggelar aksi untuk memperingati diturunkannya Surat Keputusan (SK) Bupati Sukoharjo tanggal 23 Februari 2018. SK yang memuat sanksi administratif kepada PT Rayon Utama Makmur (RUM) tersebut tidak dilaksanakan hingga kini. Aksi diawali dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan peresmian Tugu Perjuangan Rakyat. 

Tugu yang dibuat dari dana iuran warga dan berdiri di atas tanah hibah ini merupakan pengingat diresmikannya SK Bupati dan ditangkapnya 7 orang warga penolak pabrik. Dalam aksi ini warga juga mengecam kembalinya bau busuk dari cerobong pabrik PT RUM akhir-akhir ini. Tak ayal, saat aksi ini dilaksanakan, masa aksi juga diterpa bau busuk limbah dan suara keras dari mesin pabrik. 

Pukul 16.40  WIB, Tomo, salah seorang warga terdampak pencemaran limbah PT RUM, memulai orasi. Ia menekankan kepada masyarakat untuk terus berjuang melawan pencemaran lingkungan. Ia juga berharap aksi semacam ini akan terus ada hingga pada generasi penerus sampai perkara ini selesai. “Saat ini adalah pembuktian kepada generasi muda bahwa kita telah dan akan terus berjuang,” tambahnya. 

Salah satu warga terdampak lainnya asal Polokarto, Yuda, juga mengatakan dampak pencemaran udara tercium hingga rumahnya yang berjarak cukup jauh. “Bau busuk tercium pekat pada waktu subuh hingga anak-anak di sekolah sering merasakan mual dan banyak yang terkena  Infeksi Saluran Pernapasan Akut,” lanjutnya. Ia juga berharap terciptanya Sukoharjo yang sejuk terbebas dari pencemaran udara.

Hal senada juga dikatakan oleh Hirman, Ketua GPL, yang menyebutkan bahwa dampak pencemaran udara tercium dalam radius 20 kilometer hingga Wonogiri, Karanganyar, dan Solo Baru. Hirman menjelaskan bahwa warga sempat melaporkan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan membawa barang bukti. Namun, laporan tersebut dibantah oleh pihak PT RUM dengan dalih kegiatan produksi berhenti dan hanya melakukan pembersihan hasil sisa produksi. “Dalam dua minggu terakhir, PT RUM kembali menimbulkan bau,” imbuhnya. 

Menguatkan pendapat Hirman, Tomo memberikan fakta bahwa pada Minggu pagi terjadi aktivitas pengeluaran limbah cair. Padahal, pipa limbah belum dipasang sebagaimana mestinya sehingga limbah cair masih dibuang sembarangan di sungai. Ia menambahkan pemasangan pipa juga merusak lingkungan karena menutupi aliran sungai dan berpotensi menimbulkan banjir. Selain itu, pipa  juga  melongsorkan lahan pertanian warga karena lahan mereka dirusak. “Ketika musim kemarau, warga juga mengambil air dari sungai yang secara otomatis mencemari lahan mereka juga,” tegasnya.

Salah seorang warga Tegalrejo, Langgeng, mengungkapkan bahwa perusahaan seolah mengakali pembuangan limbah cair. Ia mengatakan pembuangan limbah bersamaan dengan pembukaan Pintu Air Bendungan Colo sehingga kuantitas limbah dalam aliran sungai tersamarkan dan tidak menimbulkan bau. Selain itu, ia juga menambahkan bahwa perusahaan seolah mengurangi jumlah produksi saat dilakukan pengecekan kandungan limbah. Oleh karena itu, menurut Langgeng, hasil tes laboratorium tidak mendapat hasil yang maksimal karena hanya tinggal sisanya saja. “Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sempat  ke sini awal Januari, tetapi Februari ini pencemaran meningkat lagi,” ujar Tomo.

Ketika aksi berlangsung, seorang warga mengetahui kedatangan intel ditengah-tengah massa aksi. Mendengar hal tersebut, Sarmi, koordinator massa aksi, pencemaran limbah, dengan hangat menyambut mereka. Secara lantang Ia berkata bahwa aksi kali ini merupakan urusan warga terdampak dan tidak ada urusannya dengan aparat. “Dari pada tidak dihargai disini, Anda lebih baik pulang saja!” imbuhnya geram.  Setelah aparat pulang, warga duduk beralaskan tikar yang diatasnya telah tersaji beberapa makanan.

Di depan Tugu Perjuangan Rakyat, warga mempertegas tuntutannya kepada PT RUM dan Pemerintah. Beberapa warga membentangkan spanduk bertuliskan “berani karena benar” dan “cabut izin lingkungan PT RUM”. Sementara itu, beberapa warga lain meneriakkan slogan “Warga terdampak, tetap melawan,” dengan keras sehingga menyaingi suara mesin pabrik yang terus memproduksi bau busuk. “Harapan kami cuma satu, kembalinya udara segar,” tegas Sarmi.

Penulis: Ilham Maulana
Penyunting: Bangkit Adhi Wiguna
Fotografer: Ilham Maulana

Redaksi

See author's posts

2
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...

Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga DIY

    Oktober 5, 2026
  • Kiri yang Diabaikan

    Oktober 1, 2026
  • Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?

    September 24, 2026
  • Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal

    September 24, 2026
  • Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

    September 18, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM