Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat
Taufiqurrahman: Produksi Pengetahuan Tanpa Komersialisasi Bukan Upaya Mustahil
LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat
Suci Lestari Yuana: Ojol sedang Dijajah
MBG untuk siapa
Ayo Main Kejar-Kejaran!

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
ALMAMATERKILASREDAKSI

Menilik Relevansi Pemerintahan Mahasiswa dan Gerakan Mahasiswa di UGM

November 8, 2021

Jumat (5-11), Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan diskusi daring dengan tajuk “Negara Mahasiswa = Gerakan Mahasiswa???”. Diskusi yang dimoderatori oleh Gita Rosani, mahasiswi FIB, ini diselenggarakan secara daring dengan menghadirkan tiga narasumber, yakni Luthfi Hamzah, alumnus Departemen Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM sekaligus BEM KM UGM 2011; Syahdan Husein, alumnus Sastra Indonesia UGM; dan Panji Mulkillah, alumnus Pascasarjana Hukum UGM. Diskusi ini mencoba menggali relevansi di balik polemik yang mulai berkembang di ranah mahasiswa, yaitu kehadiran negara mahasiswa di tengah gerakan mahasiswa.

Syahdan berpendapat bahwa gerakan mahasiswa dapat berjalan tanpa adanya pemerintahan mahasiswa. “Saya kira tentu saja bisa, sebab pemerintahan mahasiswa bisa dikatakan hanya sebatas lembaga yang mengantongi legitimasi dari pihak kampus,” ujar Syahdan. 

Lebih lanjut, Syahdan memberikan pandangan dengan menengok keadaan yang sebenarnya. “Dalam praktiknya, mahasiswa yang menyampaikan kritik terhadap struktur kekuasaan mengalami berbagai macam pergolakan,” terang Syahdan. Keadaan ini pada akhirnya membuat mahasiswa dalam menyampaikan aspirasinya melakukan pergerakan di luar dari pemerintahan mahasiswa ini sendiri.

Meskipun demikian, Syahdan memperjelas bahwa praktik gerakan mahasiswa tidak berseberangan dengan pemerintahan mahasiswa. Ia menerangkan bahwa sebenarnya keberadaan gerakan mahasiswa ini bukan sebagai antitesis dari pemerintahan mahasiswa. “Gerakan mahasiswa merupakan pengisi dari adanya kekosongan partisipasi terhadap isu yang berada di dalam lingkungan kampus atau isu di luar lingkungan kampus,” terang Syahdan.

Senada dengan Syahdan, Luthfi mengungkapkan bahwa gerakan mahasiswa dalam konteks pemerintahan mahasiswa tidak bisa menjadi satu-satunya identitas yang absolut dan mengkooptasi seluruh gerakan di UGM. “Di era sekarang, seseorang bisa membuat gerakan apapun,” lanjut Luthfi. Hal ini menjadi tantangan serta bahan evaluasi bagi kepengurusan BEM KM UGM terkait relevansi terhadap pemerintahan mahasiswa.

Menyambung Luthfi, Syahdan berpendapat bahwa BEM KM sebagai representasi dari pemerintahan mahasiswa dianggap meminimalisasi partisipasi mahasiswa. “Meminimalisasi partisipasi mahasiswa ini karena keberadaannya yang hanya menghadirkan isu yang itu-itu saja,” ujar Luthfi. Ia menambahkan bahwa aksi yang selama ini dilakukan BEM KM seperti memonopoli gerakan mahasiswa karena adanya aksi dalam aksi.

Kekecewaan terhadap pemerintahan mahasiswa diungkapkan Syahdan pada segala tindak keputusan dan corak sistem yang ada di UGM pada 2016/2017. Syahdan menceritakan bahwa BEM UGM dianggap sebagai representasi mahasiswa ketika aksi menolak naiknya Uang Kuliah Tunggal (UKT) kala itu. “Keadaan ini menjadi suatu klaim pengambilalihan aliansi dari berbagai fakultas dan jurusan yang terlibat dalam aksi”, tambah Syahdan.

Menurut Panji, pemerintahan mahasiswa hanyalah bentuk kepanjangan tangan dari rektorat. Hal ini dibuktikan ketika BEM KM mengundang Gatot Nurmantyo sebagai pembicara dalam Diskusi Nasional. Kehadirannya banyak ditentang mahasiswa karena Gatot Nurmantyo adalah tokoh yang bermanuver di dalam politik nasional. Syahdan mengatakan alasan pemilihan Gatot Nurmantyo merupakan arahan dari dosen. “Hal ini menunjukkan sistem BEM KM sendiri tidak merepresentasikan suara dari perwakilan yang mengakar,” tegas Syahdan.

Penulis: Marchelia Lintang Wardoyo, Muhammad Rafi Suryopambudi, Rizka Nur Hamidah (Magang)

Penyunting: Muhammad Alfimansyah

Fotografer: Alika Bettyno Sastro

Administrator

See author's posts

5
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

Taufiqurrahman: Produksi Pengetahuan Tanpa Komersialisasi Bukan Upaya Mustahil

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian Lapangan Kerja

    September 15, 2026
  • Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang Tak Terusik

    September 12, 2026
  • Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan dan Kekerasan Aksi 1 September

    September 7, 2026
  • Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

    September 6, 2026
  • Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

    September 1, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM