Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...
Kiri yang Diabaikan
Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?
Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Mencari Makna Kearifan Lokal Melalui Karya Sastra

Januari 8, 2020

©️Bangkit/Bal

Minggu (05-01), Persada Studi Klub kembali menyelenggarakan Sastra Liman, bersamaan dengan penerbitan majalah Sabana edisi ke-11. Acara ini merupakan acara rutin yang diselenggarakan setiap tanggal 5 di Rumah Maiyah, Gang Barokah, Jl. Wates KM 2 No. 287, Kadipiro, Yogyakarta. Acara kali ini menghadirkan forum diskusi yang mengangkat tema “Menggali Nilai-Nilai Lokal dalam Sastra Indonesia Modern.” Tema tersebut juga merupakan tema majalah Sabana edisi ke-11 yang terbit pada hari itu.

Acara ini diawali dengan pembacaan puisi oleh Maria Widi, pembacaan cerpen “Batu” oleh Krisna Miharja, dan pembacaan puisi oleh Anes Prabu. Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan majalah Sabana edisi ke-11 kepada para penulis. Puncak acara ini berupa sesi diskusi bersama Prof. DR. Soewardi Endraswara, Dosen Fakultas Bahasa dan Seni UNY; Agus Wahyudi, penulis buku Serat Centhini 1; Emha Ainun Nadjib, budayawan; dan Latief S. Nugraha selaku moderator. 

Soewardi membuka diskusi dengan menyinggung tentang kekuatan sastra lokal. Menurutnya, kekuatan sastra lokal terdapat pada hal-hal sederhana yang ditemui dalam aktivitas sehari-hari. “Hal tersebut kemudian dikembangkan dengan perspektif pemahaman karya sastra,” kata Soewardi. Menurut Soewardi, cerpen “Tempe” karya Evan dalam majalah Sabana, merupakan cerpen dengan perspektif pemahaman karya sastra pada kuliner, atau yang dikenal dengan istilah gastronomi sastra. Soewardi berpendapat bahwa sastrawan adalah mereka yang mengungkapkan lokalitas di daerahnya masing-masing dengan bahasa yang universal.

Selanjutnya, Agus menjelaskan tentang makna seksualitas dalam Serat Centhini. Agus, sebagai penutur ulang Serat Centhini, berpendapat bahwa karya tersebut merupakan karya sastra lokal yang menghimpun berbagai macam ilmu pengetahuan tentang Jawa. Isinya disampaikan dalam bentuk tembang, dan penulisannya dikelompokkan menurut jenis tembangnya. Agus mengatakan bahwa menurut beberapa sejarawan, Serat Centhini yang awalnya berjudul Suluk Tambangraras ditulis untuk menyaingi Thomas Stamford Raffles yang sedang menulis The History of Java kala itu. “Serat Centhini sendiri dikenal karena adanya unsur seksualitas di dalam isinya,” ungkap Agus.

Menurut Agus, seks dalam Serat Centhini tidak hanya sebagai hiburan di tengah cerita saja. “Seks dalam Serat Centhini ditujukan sebagai pengetahuan, hiburan, dan pembunuh kebosanan,” kata Agus. Dalam topik bahasan ini, Agus juga menyinggung relevansinya dengan naskah modern yang ditulis setelah Serat Centhini, antara lain adalah Warkop DKI, dan novel-novel silat tahun 90-an yang menyajikan seks sebagai salah satu daya tarik utama dalam ceritanya. 

Berbeda dengan dua pembicara sebelumnya, Emha Ainun Nadjib yang akrab disapa Cak Nun memberikan pemaparan yang lebih mendasar terkait sastra dan kearifan lokal. Cak Nun menjelaskan bahwa sebenarnya sistem yang ada di Indonesia sudah tidak lokal lagi sejak awal proklamasi kemerdekaan. Menurutnya, segala sistem yang diterapkan di Indonesia sejak awal proklamasi kemerdekaan merupakan sistem-sistem dari mancanegara. Lebih lanjut, Cak Nun mengatakan bahwa nama Indonesia sendiri ditemukan oleh George Windsor Earl, seorang navigator asal Inggris. “Konsep kearifan lokal kita sendiri diserap dari konsep local wisdom-nya bangsa lain,” tegasnya.

Cak Nun menjelaskan bahwa kekuatan sastra lokal ada di depan mata. “Temukanlah nuansa di balik teks yang Anda baca,” ujar Cak Nun. Menurut Cak Nun, keberanian menerbitkan karya sastra di era modern dan kemauan para sastrawan untuk berkumpul dan berdiskusi merupakan wujud nyata dari kekuatan sastra lokal di era modern ini.

Cak Nun berpendapat bahwa sastra dan kearifan lokal berjalan beriringan. Dalam sastra, Cak Nun menekankan perlunya untuk menemukan makna di balik teks yang dibaca. Hal tersebut, menurutnya, sejalan dengan prinsip kearifan lokal Jawa yang tertulis dalam Serat Centhini. “Pencarian makna dalam sastra akan menuntun pada pencarian makna dalam diri,” ungkap Cak Nun.

Menurut Cak Nun, kearifan lokal Indonesia yang kaya akan sangat tepat apabila diwujudkan dalam karya sastra. “Saya kira kearifan lokal bukan hanya sekadar bahasa, tapi juga apa pun yang telah hilang dari budaya kita,” imbuhnya. Oleh karena itu, Cak Nun pun berharap dengan adanya diskusi tentang kearifan lokal ini, masyarakat dapat menemukan kembali kearifan lokal yang telah hilang. 

Penulis: Bangkit Adhi Wiguna
Penyunting: M. Rizqi Akbar

Redaksi

See author's posts

diskusi sastraKearifan Lokalsastra
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga DIY

    Oktober 5, 2026
  • Kiri yang Diabaikan

    Oktober 1, 2026
  • Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?

    September 24, 2026
  • Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal

    September 24, 2026
  • Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

    September 18, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM