Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi...
Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...
Kiri yang Diabaikan
Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?
Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KABARKILAS

Harga Pangan Tak Wajar, Kenapa?

Mei 26, 2013
©dokumentasi panitia

©dokumentasi panitia

“Belum ada bukti bahwa kartel pangan itu ada. Namun, indikasinya bisa kita lihat,” terang Mochammad Romahurmuziy, Ketua Komisi IV DPR RI. Hal ini ia sampaikan dalam diskusi bertajuk, “Membongkar Kartel dan Mafia Pangan” pada Kamis (23/5). Acara ini diadakan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) di gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Prof. Ali Agus, guru besar Fakultas Peternakan UGM, dan Prof. Mochammad Maksum, guru besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, juga turut diundang menjadi pembicara dalam diskusi ini.

Kartel, menurut Pasal 11 UU No. 5 Tahun 1999, merupakan perjanjian antar pelaku usaha untuk mempengaruhi harga dengan berbagai upaya. Akibatnya, muncul praktek monopoli dan persaingan tidak sehat. Romahurmiziy menerangkan, indikasi mengenai kartel dapat dilihat dari kebijakan impor dalam sektor pangan. Padahal, produksi dalam negeri sudah memungkinkan untuk pemenuhan kebutuhan. Ia membeberkan contoh dalam kasus impor daging sapi. Sebenarnya, produksi daging sapi cukup potensial. Namun harga jual daging sapi lokal kalah bersaing dengan daging sapi impor. Pasalnya, biaya distribusi membuat harga jual daging lokal lebih mahal sekitar dua kali lipat dibanding daging impor. “Mana ada orang yang mau beli daging dua kali lebih mahal?” ungkapnya.

Hal lain yang mengindikasikan adanya kartel adalah hasil produksi pangan yang selalu jauh dari target. Maksum menyebutkan, target tahun lalu produksi kedelai 1,9 juta ton. Namun, hanya 40 % yang berhasil diproduksi. Akibatnya, sebelum ramadhan tahun lalu bea cukai kedelai dihapus. “Pemerintah selalu mengemukakan data yang sulit kita bantah,” tambah Romahurmuziy.

“Pengembangan produksi pangan dalam negeri tidak serius dilakukan. Selama ini hanya sebatas jargon politik,” ungkap Romahurmuziy. Ia mengemukakan, pelemahan produksi pangan dalam negeri sebenarnya telah dimulai sejak liberalisasi sektor pangan pada era orde baru. Saat itu Soeharto menandatangani perjanjian Letter of Intent (LoI) dengan IMF pada Januari 1998. Sejak saat itulah impor di sektor pangan mulai gencar dilakukan.

Akibatnya, saat ini neraca perdagangan komoditas pertanian memang surplus. Namun, menurutnya, hal ini tidak bisa serta merta dimaknai sebagai swasembada pangan. Pasalnya, hanya sub-sektor non-pangan, yaitu perkebunan, yang mengalami surplus sebesar 33 juta dolar. Sub-sektor lain mengalami defisit. Di antaranya, tanaman pangan sebesar 5 ribu ton, holtikultura 1 juta dolar, dan 2 juta dolar untuk peternakan.

Kondisi ini diperburuk dengan angka inflasi yang mencapai 5,9 persen selama Januari sampai Maret. Salah satu penyebab inflasi ini adalah tidak terpenuhinya permintaan terhadap empat komoditas pangan, di antaranya daging, bawang putih, bawang merah, dan cabai. “Kini swasembada semakin 2014 semakin tidak terbukti,” keluh Maksum.

Maksum menegaskan, kita perlu melakukan perubahan dari sekedar ketahanan menuju kedaulatan. Hal ini dapat dicapai dengan memberdayakan masyarakat menuju kemandirian. “Sebenarnya kita mampu. Petani kita cukup cerdas,” tegas Arif Budiman, seorang peserta dalam diskusi ini. Selain itu, Maksum menyatakan, pemerintah perlu tegas mengatur dan mengawasi sektor yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak ini. “Kita yang memiliki kebebasan berpendapat juga perlu mengambil peran. Jika memang ada yang salah, berteriaklah dan jangan pernah berhenti,” pungkas Romahurmuziy. [Ahmad Syarifudin]

Administrator

See author's posts

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi...

Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi di Indonesia

    Oktober 17, 2026
  • Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga DIY

    Oktober 5, 2026
  • Kiri yang Diabaikan

    Oktober 1, 2026
  • Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?

    September 24, 2026
  • Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal

    September 24, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM