Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat
Taufiqurrahman: Produksi Pengetahuan Tanpa Komersialisasi Bukan Upaya Mustahil
LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat
Suci Lestari Yuana: Ojol sedang Dijajah
MBG untuk siapa

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KABARKILAS

Jogja, Ibukota Industri Kreatif Indonesia

Juli 2, 2011

Tak banyak yang tahu, Jogja ditetapkan sebagai ibukota industri kreatif di Indonesia. Di Jogja, para seniman, akademisi, serta praktisi berkumpul. Maka tak heran,  kolaborasi ketiganya memunculkan banyak industri kreatif.

Potensi ini kemudian dilirik oleh pemerintah pusat yang terangkum dalam Master Plan Percepatan Peningkatan Ekonomi Indonesia (MP3I). Wacana ini tertuang dalam diskusi publik bertajuk “Jogja: Kota Kreatif” pada Kamis, (30/6). Acara yang bertempat di ruang Hagios lantai 3 Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) ini terselenggara berkat kerjasama IIS UGM, UKDW, serta Kementerian Ritek dan Teknologi.

Menurut Aunur Rofiq selaku staf Wakil Presiden RI, industri kreatif adalah sebuah industri yang mampu menciptakan mekanisme untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Idealnya, industri kreatif harus terdiri dari tiga fase, yakni Think/Idea, Planning, dan Act/Production.Ketiga fase ini harus didukung dengan solidaritas sosial masyarakat, identifikasi potensi, serta gagasan-gagasan pemecahan masalah. “Industri kreatif juga harus mampu melakukan sinergi antara tiga aktor, yaitu negara, masyarakat dan akademisi,” tambah Aunur.

Senada dengan Aunur, M. Arief Budiman dari komunitas Petak Umpet Jogja juga menyatakan dukungannya pada industri kreatif Jogja. Meskipun di awal penjelasannya Arief sedikit ‘mengritik’ Jogja yang penuh dengan spanduk kampanye, ia tetap optimis dengan rebrandingJogja sebagai ibukota kreativitas Indonesia.

Tak jauh berbeda dengan pembicara sebelumnya, Widyawan, Ketua Program Studi Teknologi Informasi UGM, juga menyatakan dukungannya pada industri kreatif Jogja. Ia menyebutkan industri kreatif Jogja telah menyumbang PDB setidaknya 151,6 triliun rupiah pada 2008. Angka ini terus bertambah seiring dengan meningkatnya integrasi jejaring sosial pada setiap aspek kehidupan. “Teknologi-teknologi semacam ini harus kita manfaatkan untuk meningkatkan industri kreatif di Jogja,” ujar  Widyawan.

Diskusi sempat berlangsung heboh saat Dini, mahasiswa Ilmu Gizi UGM mengajukan pendapat yang cukup mengejutkan. Dini menyayangkan sikap pemerintah yang cukup arogan dalam mengembangkan kreativitas mahasiswa. Menurut Dini, akademisi di Jogja sudah dididik hanya menjadi sebuah pekerja belaka. Ia mencontohkannya dengan implementasi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang seolah-olah hanya sebatas formalitas. Pendapat Dini ini ditanggapi secara dingin oleh Dendi Pratama, anggota komunitas Capung Yogyakarta. “Daripada ikut PKM, lebih baik bikin penyuluhan saja untuk pengusaha kecil saat isu boraks menyebar,” tegas Dendi. “Mahasiswa jangan hanya bisa mengutuk, tetapi juga berkontribusi lebih untuk Jogja” sambungnya sembari menutup pembicaraan. [Ferdi Febianno Anggriawan]

Administrator

See author's posts

ibukotaiisindustri kreatifjogjaugm
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

    September 18, 2026
  • Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian Lapangan Kerja

    September 15, 2026
  • Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang Tak Terusik

    September 12, 2026
  • Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan dan Kekerasan Aksi 1 September

    September 7, 2026
  • Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

    September 6, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM