Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi...
Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...
Kiri yang Diabaikan
Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?
Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Diskusi Buku Tersungkur dan Tetap Melawan Rekam Perlawanan Warga Terdampak Proyek Negara

Juli 2, 2026

©Sutanto/Bal

“Buku ini menjadi ruang untuk menyimpan ingatan dan juga merekam suara-suara yang kerap terpinggirkan,” ungkap Kiki Hadi, jurnalis Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, yang memoderatori diskusi buku Tersungkur dan Tetap Melawan di Greenhouse Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Sabtu (27-06). Diskusi ini merupakan kolaborasi antara AJI Yogyakarta, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Arena UIN Sunan Kalijaga, Project Multatuli, dan Penerbit Marjin Kiri. Forum yang terbuka untuk umum ini menghadirkan tiga narasumber, di antaranya Fahri Salam, Pemimpin Redaksi Project Multatuli; Bambang Embeka, penulis bab ‘Tanah Surga’ Wadas Dijadikan Tambang: ‘Mengapa Pemerintah Menindas Petani?’ dalam buku Tersungkur dan Tetap Melawan; dan Susi Mulyani, perwakilan Wadon Wadas, sebagai narasumber.

Dalam diskusi tersebut, Fahri selaku editor menuturkan bahwa buku Tersungkur dan Tetap Melawan menghimpun 14 reportase Project Multatuli sepanjang 2021-2026 tentang warga dan komunitas yang bertahan menghadapi proyek negara dan korporasi. Menurutnya, buku ini dibuat untuk mendokumentasikan kisah-kisah perlawanan dari berbagai daerah di Indonesia. Fahri juga menyebut bahwa pemilihan reportase dalam buku ini memang sengaja mempertimbangkan keterwakilan berbagai daerah. Daerah-daerah tersebut, dalam penuturan Kiki, mencakup perlawanan di Jawa, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. “Ngambil representasi, biar nggak semuanya dari Jawa,” tutur Fahri.

Salah satu kisah yang menjadi sorotan diskusi datang dari Wadas, Purworejo, Jawa Tengah. Menurut Bambang, Wadas adalah lokasi tambang batu andesit yang akhirnya mangkrak serta menimbulkan berbagai kerusakan dan kerugian. Susi selaku warga Wadon Wadas menjelaskan bahwa kehadiran tambang di Wadas telah merusak perekonomian warga. Oleh sebab itu, menurutnya, perlawanan warga terhadap tambang merupakan usaha mempertahankan tanah sebagai warisan anak cucu. Dalam prinsipnya, Susi bertekad tidak akan menjual tanahnya sampai kapan pun. “Bukan hanya manusia, tetapi hewan, tumbuhan, dan air yang ada di Wadas itu kami pertahankan,” tegas Susi.

Sayangnya, Susi mengatakan bahwa terdapat perbedaan antara warga yang memilih menjual tanah dan warga yang konsisten mempertahankan tanah. Menurutnya, kelompok yang menolak menjual tanah sering dikucilkan dan dilabeli pembangkang oleh mereka yang memilih menjual tanah. “Kita sering dikatain, ‘Kamu itu pembangkang pemerintah, kamu itu masih anak kecil, kamu itu sok-sok-an’,” tutur Susi. 

Fahri menanggapi cerita Susi sebagai praktik ekonomi rente yang juga berulang di banyak proyek. Strategi ini, menurut Fahri, sering kali mengacaukan konsolidasi warga saat melawan proyek negara dan korporasi sehingga mengikis relasi sosial warga. “Ekonomi uang itu mengubah banyak,” ujar Fahri.

Dila, seorang peserta diskusi yang berasal dari Kalimantan Timur, turut bercerita mengenai praktik ekonomi rente yang terjadi di tempatnya. Menurutnya, di desanya banyak warga justru merasa senang ketika tanahnya digarap pertambangan karena mendapat ganti rugi yang lumayan besar, sekitar 20 sampai 30 juta rupiah per rumah. Namun, sebagai orang yang masih mempertahankan tanahnya, Dila merasakan hal yang berbeda. “Kita kecewa sama orang-orang yang tanpa secara sadar menerima hal itu,” ujarnya. Dila pun mengungkapkan bahwa dirinya merasakan sakit yang sama saat mendengar Susi bercerita

Sejalan dengan cerita Susi dan Dila, Fahri turut menyinggung perlawanan Mama Yani di Ternate. Menurut Fahri, Mama Yani adalah satu-satunya orang yang menolak masuknya perkebunan sawit ke kampungnya. “Sama kayak Mbak Susi, [Mama Yani-red] juga dikucilkan,” ujar Fahri.  

Fahri merasa masuknya uang ke desa lewat proyek perkebunan dan pertambangan telah mengubah cara hidup banyak orang. Dahulu, warga tidak terlalu bergantung pada uang karena bisa mengambil makanan dari kebun atau bertukar kebutuhan lewat relasi sosial. Sementara itu, hampir semua hal saat ini justru membutuhkan uang. “Semua relasi sosial yang tadinya organik sekarang dilihat sebagai jual-beli,” ujar Fahri.

Dari permasalahan ini, Fahri menggarisbawahi pentingnya solidaritas dan pergerakan bersama dalam menghentikan proyek-proyek perusak ruang hidup warga. Ia tak menampik bahwa warga memang berhadapan dengan lawan yang jauh lebih kuat. Namun, menurutnya, kunci perjuangan tidak terletak pada perlindungan hukum semata, melainkan juga solidaritas antarwarga. “Relasinya itulah sebenarnya yang penting,” pungkas Fahri.

Penulis: Vina Arum dan Zalfa Zakhia
Editor: Sulthan Zidan
Ilustrator: Adhitia Sutanto

Redaksi

See author's posts

1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi...

Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi di Indonesia

    Oktober 17, 2026
  • Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga DIY

    Oktober 5, 2026
  • Kiri yang Diabaikan

    Oktober 1, 2026
  • Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?

    September 24, 2026
  • Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal

    September 24, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM