Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat
Taufiqurrahman: Produksi Pengetahuan Tanpa Komersialisasi Bukan Upaya Mustahil
LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat
Suci Lestari Yuana: Ojol sedang Dijajah
MBG untuk siapa
Ayo Main Kejar-Kejaran!

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Lewat Diskusi “Memutus Mata Rantai Kekerasan Seksual di Pesantren”

Januari 28, 2026

©Sutanto/Bal

“Kita berdiskusi tentang penanganan kekerasan seksual di pesantren yang saat ini sedang banyak dibicarakan,” ujar Ami Prayogo, moderator dalam diskusi “Memutus Mata Rantai Kekerasan Seksual” yang diinisiasi oleh Yayasan Pesantren Bumi Cendekia Yogyakarta. Selain penanganan, diskusi daring yang diselenggarakan pada Senin (24-01) ini juga membahas pola kasus, kendala pelaporan, dan upaya pencegahan kekerasan seksual di pesantren. Terdapat  dua narasumber yang hadir dalam diskusi ini, yaitu aktivis Kalis Mardiasih dan Wakil Ketua Yayasan Pesantren Bumi Cendekia Rika Iffati Farihah.

Dalam penjelasannya, Kalis memaparkan beberapa kasus yang umum terjadi di Pesantren. Ia menyebutkan bahwa terdapat pelaku yang memanipulasi korban dengan modus spiritual seperti pemberian keberkahan melalui sentuhan fisik. Lebih parah lagi, Ia mengungkapkan bahwa terdapat pemimpin pesantren yang memaksa santri untuk menikah dengannya. Ia menilai kasus semacam itu terjadi karena struktur relasi kuasa yang berlapis antara pelaku dan korban. “Pasti pelakunya itu merasa lebih kuat dibanding korbannya,” tegas Kalis. 

Relasi kuasa itu tak berhenti pada tindakan kekerasan seksual semata, melainkan juga pelaporan dan penanganannya. Menurut Kalis, posisi pelaku yang ditokohkan dalam lingkungan keagamaan membuat korban berada pada posisi yang lebih lemah. Kalis berpendapat nilai-nilai semacam itu menyebabkan masyarakat cenderung sulit mempercayai kesaksian korban. “Korban khawatir dituduh melakukan sesuatu yang tidak hormat kepada gurunya,” ungkap Kalis.

Dalam penanganan kekerasan seksual sendiri, Kalis memberi contoh mengenai kasus yang terjadi di Jombang. Melibatkan anak pemilik pondok, penanganan kasus tersebut berlarut-larut sampai lima tahun. Hal ini karena kesaksian korban tidak dipercayai oleh masyarakat yang sudah memiliki relasi kuat dengan pesantren tersebut. “Masyarakat itu nggak percaya itu terjadi, bahkan ketika mereka tahu,” ucap Kalis. 

Sementara itu, lingkungan internal pesantren sendiri lebih mementingkan nama baiknya dibanding keselamatan korban. Kalis menilai mereka khawatir informasi tersebut akan mencoreng kehormatan pesantren. “Kalau misalnya kita terus terang bahwa ada kasus ini, nanti nama baik pondok kita gimana?” ucap Kalis menceritakan kondisi yang umum terjadi.

Lain halnya dengan institusi semacam itu, Rika menjelaskan bahwa reputasi Pesantren Bumi Cendekia justru dinilai dari seberapa tegas sikapnya dalam menangani kekerasan seksual. Rika memaparkan bahwa Pesantren Bumi Cendekia memiliki sistem pelaporan yang berorientasi pada keamanan santri. Ia lantas menuturkan bahwa lembaga tersebut menyediakan berbagai wadah komunikasi seperti halaqah, mentoring, dan layanan konseling agar santri memiliki ruang aman untuk bercerita. Menurutnya, keberanian santri hanya akan muncul jika mereka merasa didukung sepenuhnya oleh sistem di pesantren. “Kalau anak merasa didengarkan, suatu saat dia akan bercerita,” jelas Rika. 

Selanjutnya, Rika menyebutkan bahwa Pesantren Bumi Cendekia berkomitmen untuk bersikap transparan tentang kasus kekerasan seksual kepada wali santri. Tak hanya itu, menurut pernyataannya, Pesantren Bumi Cendekia juga berkomitmen memberikan sanksi tegas kepada siapa pun yang melanggar kode etik perlindungan anak. Ia menegaskan Pesantren Bumi Cendekia akan selalu menerima segala aduan kekerasan seksual dengan serius. “Tidak ada toleransi di Bumi Cendekia bagi para pelaku kekerasan,” pungkas Rika. 

Penulis: Muhammad Athallah Adinata
Penyunting: Muhamad Muflihun
Ilustrator: Adhitia Sutanto

Redaksi

See author's posts

3
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian Lapangan Kerja

    September 15, 2026
  • Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang Tak Terusik

    September 12, 2026
  • Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan dan Kekerasan Aksi 1 September

    September 7, 2026
  • Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

    September 6, 2026
  • Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

    September 1, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM