Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...
Kiri yang Diabaikan
Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?
Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Aksi Tolak Pengesahan RUU Pilkada dibalas Gas Air Mata

Agustus 24, 2024

©Adit/Bal

Berbagai lapisan masyarakat, mulai dari mahasiswa, buruh, seniman dan unsur masyarakat sipil lainnya menggelar demonstrasi akbar di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) di bilangan jalan Gatot Subroto, Jakarta pada Kamis (23-08). Aksi demonstrasi serupa juga digelar serentak di berbagai kota lain di Indonesia. Seluruh aksi demonstrasi itu menyuarakan penolakan atas pengesahan Rancangan Perubahan Keempat Undang-Undang tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota (RUU Pilkada). Penolakan terjadi disebabkan oleh kemarahan masyarakat atas sikap DPR yang berusaha menganulir Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 60/PUU-XXII/2024 mengenai batas usia pencalonan kepala daerah lewat RUU Pilkada.

Nugroho, salah satu mahasiswa dalam massa aksi, menyebutkan bahwa aksi demonstrasi ini merupakan bentuk akumulasi kemarahan masyarakat atas pemerintah yang semakin korup terhadap kekuasaan. Ia mengatakan bahwa perubahan peraturan di RUU Pilkada sangat kental dengan kepentingan Jokowi untuk meloloskan anaknya sebagai bakal calon kepala daerah. “Pemerintahan yang korup terhadap kekuasaan itu diperlihatkan dengan adanya revisi UU Pilkada yang dibuat dengan cepat hanya dalam kurun waktu sehari saja,” ujar Nugroho.

Menurut Andi (bukan nama sebenarnya), salah satu masyarakat sipil yang bergabung dalam massa aksi, mengatakan bahwa awalnya aksi demonstrasi berjalan dengan damai dan kondusif. Namun, setelah pukul lima sore, saat massa aksi sudah mulai mundur, tiba-tiba saja kerumunan dari aparat kepolisian maju merangsek ke tengah kerumunan massa aksi sembari menembakkan gas air mata. Andi menilai bahwa penyebab kericuhan selain dari tuntutan yang tidak diakomodir dengan cepat adalah karena ketidaksabaran polisi dalam menangani masalah. “Polisi tidak perlu langsung represif atau tidak perlu langsung melemparkan gas air mata, bisa memberitahukan terlebih dahulu,” ungkap Andi.

©Adit/Bal

Kemudian, Andi juga mengungkapkan munculnya provokator yang berusaha mengacaukan jalannya demo. Ia menerangkan bahwa ada provokator yang menyuruh massa untuk tetap bergerak maju saat seharusnya massa dapat mundur untuk menghindari bentrokan dengan aparat. “Jadi ketika masyarakat mau mundur, ada yang di jembatan penyeberangan orang itu kayak membangun barikade yang mempersulit masyarakat untuk keluar untuk menyelamatkan diri,” ucap Andi. Akibatnya, bentrokan dengan aparat kepolisian tak terhindarkan. 

Andi menjelaskan bahwa polisi membalas provokasi itu dengan represi membabi buta terhadap peserta demo tanpa henti. Ia mengatakan jika dirinya terkena lemparan batu yang datang dari kerumunan polisi. Batu itu menggores kepala Andi sampai bocor dan mengeluarkan darah. Selain itu, Andi juga mengatakan bentuk represifitas lain yang dialami massa aksi di sekelilingnya. “Aku juga ketemu sama wartawan yang mau diambil kameranya, ada yang temannya tiba-tiba ditarik padahal pakai almet dan tidak melakukan provokasi,” ungkap Andi.

Represifitas polisi juga dialami oleh Nugroho. Ia bersama dengan massa demonstran lainnya terperangkap di halaman depan gedung DPR pada malam hari akibat barikade polisi yang mengepung mereka di kedua sisi jalan keluar. Ia mengatakan bahwa pengepungan itu terjadi selama dua jam dan selama itu pula gas air mata secara masif ditembakkan ke tengah kerumunan. Selain itu, ia menceritakan bahwa terdapat beberapa peserta aksi yang ditangkap oleh polisi ketika gas air mata ditembakkan. “Kami semacam dijadikan samsak hidup oleh aparat, mitigasi kemana pun tidak bisa dan itu berlangsung sampai kurang lebih jam 10 malam,” ucap Nugroho.

Walaupun aksi demonstrasi berakhir dengan ditundanya pengesahan RUU Pilkada, Nugroho berpendapat bahwa masyarakat harus tetap mengawal isu ini, sebab masyarakat tidak boleh langsung percaya dengan pemerintah. Menurutnya terdapat informasi bahwa pemerintah masih menginginkan revisi ini berlangsung melalui cara lain, termasuk melalui celah di Komisi Pemilihan Umum (KPU) melalui Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU). “Nah sekarang ini kami akan adakan aksi juga di hari Jumat [di KPU-red] sebagai tindak lanjut dari aksi hari ini,” tutur Nugroho.

Penulis: Aditya Nugroho
Penyunting: Gayuh Hana Waskito
Fotografer: Aditya Nugroho

Redaksi

See author's posts

2
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga DIY

    Oktober 5, 2026
  • Kiri yang Diabaikan

    Oktober 1, 2026
  • Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?

    September 24, 2026
  • Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal

    September 24, 2026
  • Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

    September 18, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM