Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat
Taufiqurrahman: Produksi Pengetahuan Tanpa Komersialisasi Bukan Upaya Mustahil
LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat
Suci Lestari Yuana: Ojol sedang Dijajah
MBG untuk siapa

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Ancaman Krisis Kesadaran dan Kerusakan Lingkungan, Buntut dari Modernitas

November 7, 2022

©Logissa/Bal

Jumat (04-11) Jaringan Intelektual Berkemajuan mengadakan diskusi daring yang bertajuk “Capitalocene: Modernitas, Kehancuran Lingkungan, dan Kita.” Diskusi ini dipantik oleh Musa Maliki, dosen Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, dan Fathun Karib, dosen Sosiologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Ditayangkan pada platform YouTube, diskusi ini berfokus pada realitas isu lingkungan dan keterkaitannya dengan kehidupan sosial ekonomi. 

Membuka sesi diskusi, Karib membahas mengenai dampak modernisasi terhadap kerusakan lingkungan. Ia mengatakan bahwa modernisasi mengakibatkan kondisi bumi yang semakin hari semakin rusak. Argumen tersebut diperkuat dengan fakta yang ada di lapangan yang didukung berbagai kajian yang selama ini ia telusuri. 

Kemudian, Musa menambahkan terkait modernitas yang memengaruhi berbagai tuntutan hidup sesuai dengan peradaban materialisme barat atau kapitalisme global. Dua hal tersebutlah yang dianggapnya telah memengaruhi laju kerusakan lingkungan. Menimpali pendapat Musa, Karib menyebut adanya dua pendapat terkait penyebab kerusakan lingkungan, yaitu oleh manusia dan bukan hanya manusia. “Kapitalisme bukan hanya menyangkut tenaga kerja dan kerja, tetapi bagaimana alam dipaksa untuk turut bekerja,” ucapnya.

Karib juga menyebutkan bahwa lingkungan dijadikan sebagai sebuah masalah dalam penyangkalan sistematik. Ia juga menuturkan, dalam mengatasi masalah penyangkalan sistematik tersebut, dibutuhkan tiga penyangkalan. Penyangkalan itu terdiri dari penyangkalan keseharian, politik, dan ilmu pengetahuan. 

Lebih lanjut, Karib memberi contoh terkait penyangkalan keseharian yang dapat dilihat dari masalah sampah di Sidoarjo. “Sampah tersebut digunakan oleh orang Sidoarjo untuk bahan bakar dalam memasak tahu, padahal sampah tersebut sebelumnya hasil pembuangan dari Eropa ke Indonesia,” ungkapnya. Pada kesimpulannya, Karib turut mengungkapkan bahwa secara tidak langsung, dalam pembakaran sampah, akan terjadi percampuran mikroplastik sehingga berdampak buruk bagi kesehatan manusia yang mengonsumsinya. 

Pada akhir diskusi, Karib menyebutkan ada berbagai komunitas yang berfokus pada isu-isu lingkungan. Melalui pernyataan tersebut, Karib mempertanyakan eksistensi partai politik dalam mengambil andil, bahkan cenderung tidak ada satu pun partai yang menyinggung isu politik lingkungan. “Jika ada satu partai politik yang membahas soal lingkungan, maka hal itu sangat mengakibatkan perubahan yang sangat baik,” tungkas Karib sebagai pernyataan akhir diskusi. 

Penulis: Siti Fatria Pelu, Francois Ryansher Mamarimbing, dan Vita Zulfidayanti (Magang)
Penyunting: Lindra Prastica
Fotografer: Logissa Sukmana (Magang)

Redaksi

See author's posts

1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

    September 18, 2026
  • Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian Lapangan Kerja

    September 15, 2026
  • Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang Tak Terusik

    September 12, 2026
  • Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan dan Kekerasan Aksi 1 September

    September 7, 2026
  • Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

    September 6, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM