Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat
Taufiqurrahman: Produksi Pengetahuan Tanpa Komersialisasi Bukan Upaya Mustahil
LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat
Suci Lestari Yuana: Ojol sedang Dijajah
MBG untuk siapa

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KABARKILASREDAKSI

Demonstran, Korban Pembunuhan Sewenang-Wenang

Februari 24, 2021

©Fadhil/Bal

Wakil Ketua Bidang Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Era Purnamasari, menjelaskan bahwa kasus pembunuhan sewenang-wenang yang dilakukan polisi berkecenderungan pada pembatasan kebebasan berpendapat, berkumpul, dan berekspresi. “Data YLBHI mencatat, sebanyak 48 persen kasus pembunuhan sewenang-wenang terjadi saat penanganan demonstrasi,” ujar Era dalam diskusi daring bertajuk “Pembunuhan Sewenang-wenang dalam Penegakan Hukum: Potret Extra Judicial Killing di Indonesia” pada Minggu (21-02). 

Era kemudian memaparkan rincian data pembunuhan sewenang-wenang oleh polisi saat penanganan demonstrasi. Pada tahun 2019, kasus pembunuhan sewenang-wenang saat demonstrasi berjumlah 62. Sementara pada tahun 2020 tidak ditemukan kasus. Era menilai bahwa penurunan tersebut tidak berarti keadaan sudah membaik. “Sebab, terdapat faktor pandemi yang membatasi gerak orang untuk melakukan demonstrasi,” jelas Era.

Peristiwa penembakan Randy dan Yusuf dalam demonstrasi di Kendari merupakan salah satu bentuk pembunuhan sewenang-wenang saat demonstrasi. Ahmad Taufan Damanik, Komisioner Komnas HAM, mengatakan bahwa Komnas HAM telah menemukan bukti penembakan. “Entah hanya Randy atau dua-duanya, yang jelas, salah satunya sudah pasti ditembak secara semena-mena oleh polisi,” ungkapnya.

Ahmad menduga bahwa kurangnya kapabilitas polisi dalam menangani massa merupakan penyebab maraknya pembunuhan sewenang-wenang. Ia kemudian menyebut demonstrasi menolak UU Cipta Kerja di Jakarta dan Brimob Nusantara. Pada peristiwa tersebut, tambah Ahmad, Brimob Nusantara tidak menguasai medan sebab personelnya berasal dari berbagai daerah. “Mereka tidak tahu kemana massa mesti didorong. Yang terjadi, massa terdesak hingga banyak yang mengalami cedera,” ujar Ahmad.

Selain itu, Ahmad menilai bahwa dalam diri polisi telah terdapat benih untuk melakukan pembunuhan sewenang-wenang. Hal tersebut berangkat dari cerita salah seorang petinggi kepolisian mengenai sikap polisi saat demonstrasi. “Kalau petugas saya sudah berhadapan dengan demonstran, meskipun sudah mengikuti pendidikan HAM, tetap saja masih melihat massa sebagai pelaku tindak pidana,” kutip Ahmad. 

Ahmad kemudian menekankan pada kepolisian untuk memberikan pelatihan simulatif. “Seperti cara menangani massa atau hal yang tepat dilakukan ketika menangkap orang,” ujar Ahmad. Menurutnya, pelatihan tersebut merupakan pelengkap pelatihan HAM. Sebab, tuturnya, pelatihan HAM hanya merupakan pelatihan kognitif, tidak praktis.

Penulis: Muhammad Fadhilah P
Penyunting: Elvinda F S

Redaksi

See author's posts

extra-judicial killingpelanggaran HAMpolisi represif
2
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

1 komentar

Raka Maret 9, 2021 - 20:48

semangat berjuang!

Reply

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

    September 18, 2026
  • Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian Lapangan Kerja

    September 15, 2026
  • Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang Tak Terusik

    September 12, 2026
  • Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan dan Kekerasan Aksi 1 September

    September 7, 2026
  • Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

    September 6, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM