Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Aksi Ibu Berisik Keluhkan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap...
Brutalitas Aparat dalam Aksi Sumpah Pemuda Yogyakarta
Aksi Sumpah Pemuda Yogyakarta Keluhkan Berbagai Kebijakan Pemerintah
Isu Pembungkaman Driver Maxim Jogja di RDPU Berakhir...
Aksi DPRD DIY Berujung Represi oleh Polisi dan...
Rektorat UGM Enggan Tanda Tangani MoU Penyelesaian Isu...
Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi...
Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...
Kiri yang Diabaikan
Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Rayakan Seratus Tahun Sitor Situmorang Lewat Antologi Puisi Dua Benua

November 6, 2024

©Adit/Bal

Dalam rangka memperingati 100 tahun Sitor Situmorang, Bentara Budaya Yogyakarta pada Sabtu (02-11), mengadakan diskusi peluncuran antologi puisi karya Martina Heinschke berjudul “Zwichen zwei Kontinenten–Antara Dua Benua” di Kotabaru, Yogyakarta. Martina merupakan seorang penerjemah sastra sekaligus akademisi asal Jerman yang sering menerjemahkan karya-karya sastra bahasa Indonesia ke bahasa Jerman. Di dalam antologi puisinya yang terbaru, ia menerjemahkan 70 puisi Sitor dari bahasa Indonesia ke bahasa Jerman.

Martina mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada puisi Sitor membuat dirinya terdorong untuk menerjemahkan karya-karya Sitor. Dorongan tersebut terdapat dalam gaya bahasa Sitor yang mengandung pesan-pesan universal. “Pesan universal itu bisa menggerakkan rasa dan mengingatkan hal-hal termasuk keyakinan atau mengingat Tuhan untuk manusia,” tutur Martina.

Selain itu, Martina juga menuturkan bahwa sajak yang dihasilkan Sitor sangat variatif. Ia mencontohkan sajak Sitor yang berjudul “Hamilku” dan “Hamilmu” yang membahas feminisme. Ia berkata bahwa sajak seperti itu jarang ia temukan dalam sastra-sastra Indonesia. “Jarang sekali penyair laki-laki menulis tentang kehamilan,” ujar Martina.

Bagi Martina proses menerjemahkan karya Sitor bukanlah perkara mudah. Ia harus bergelut dengan berbagai tantangan mulai dari terbatasnya kebutuhan materi hingga perbedaan struktur bahasa. Martina berusaha keras untuk memahami konteks sejarah yang melatarbelakangi setiap puisi, serta mencari kosakata yang tepat untuk menyampaikan nuansa yang sama dalam bahasa Jerman. “Saya juga harus menghafalkan semua kosakata untuk menemukan diksi yang indah dalam bahasa Jerman,” ucapnya.

Ketika ditanya ihwal karya sastra Indonesia di Jerman, Martina menjelaskan bahwa sastra Indonesia masih kurang diminati. Menurutnya, hal tersebut disebabkan karya sastra Indonesia masih belum mudah ditemukan di toko-toko buku Jerman. Hal itu disebabkan oleh kurangnya gerakan untuk mempromosikan karya sastra Indonesia di dunia internasional. “Ya, jadi mungkin masih perlu satu pemimpin [untuk mempromosikan-red],” tandas Martina.

Di lain sisi, Ninuk, salah satu peserta diskusi menyebutkan bahwa pengenalan sastrawan Indonesia seperti Sitor sudah didapatkannya sejak menjadi pelajar. Ia menuturkan bahwa kecintaannya terhadap sastra, termasuk Sitor, dimulai sejak masa SMP ketika dikenalkan dengan sastrawan dan pujangga-pujangga baru di eranya. “Hal ini membuat suatu saat saya mencintai sastra,” ujar Ninuk.

Cerita yang hampir sama juga diberikan oleh Nunung, salah satu peserta diskusi. Baginya, sastra di masa mudanya menjadi teman yang menemani suasana hari-hari mereka. Namun, Ia ragu jika anak-anak sekarang masih mendapatkan pengenalan terhadap karya-karya sastrawan seperti Sitor. “Saya juga kurang memahami apakah anak-anak sekarang sudah diperkenalkan dengan karya sastrawan seperti Sitor,” ujarnya. 

Penulis: Azmi Hanief, Ulfa Dwi Damayanti, Auliya Rahmani (Magang)
Penyunting: Aditya Nugroho
Fotografer: Aditya Nugroho

Redaksi

See author's posts

11
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Aksi Ibu Berisik Keluhkan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap...

Brutalitas Aparat dalam Aksi Sumpah Pemuda Yogyakarta

Aksi Sumpah Pemuda Yogyakarta Keluhkan Berbagai Kebijakan Pemerintah

Isu Pembungkaman Driver Maxim Jogja di RDPU Berakhir...

Aksi DPRD DIY Berujung Represi oleh Polisi dan...

Rektorat UGM Enggan Tanda Tangani MoU Penyelesaian Isu...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Aksi Ibu Berisik Keluhkan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Perempuan

    November 2, 2026
  • Brutalitas Aparat dalam Aksi Sumpah Pemuda Yogyakarta

    November 1, 2026
  • Aksi Sumpah Pemuda Yogyakarta Keluhkan Berbagai Kebijakan Pemerintah

    November 1, 2026
  • Isu Pembungkaman Driver Maxim Jogja di RDPU Berakhir Buntu

    Oktober 25, 2026
  • Aksi DPRD DIY Berujung Represi oleh Polisi dan Terduga Preman

    Oktober 25, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM