Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat
Taufiqurrahman: Produksi Pengetahuan Tanpa Komersialisasi Bukan Upaya Mustahil
LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat
Suci Lestari Yuana: Ojol sedang Dijajah
MBG untuk siapa
Ayo Main Kejar-Kejaran!
Sigit Heru Murti: Tata Kelola Biaya KKL Itu...
#KelasPekerja
#CarutMarutRealitasKampus
Koalisi Persma DIY dan AJI Yogyakarta Kecam Prabowo...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KABARKILAS

Menelusuri Akar Konflik Sosial

Desember 14, 2012
©istimewa

©istimewa

 

“Negara harus menyelesaikan konflik sosial sampai ke akar-akarnya” ujar  Dr. Muhammad Najib Azca, MA, dosen Sosiologi Fisipol UGM. Kalimat ini disampaikannya dalam diskusi publik bertajuk, “Mengurai Akar Konflik Sosial Sebagai Kegagalan Negara”. Diskusi  yang berlangsung Rabu (12/12), di Ruang Seminar Timur Pascasarjana Fisipol ini juga menghadirkan Staf Peneliti Pusat Studi HAM Universitas Islam Indonesia, Tri Guntur Narwaya, M.Si. Mohammad Zaki Arrobi, Ketua Keluarga Mahasiswa Sosiologi (KMS) menjadi moderator diskusi yang dimulai pukul 13.30 ini.

Diskusi publik yang diselenggarakan oleh Kementerian Kajian Strategis BEM KM dan KMS ini dilatarbelakangi maraknya konflik-konflik sosial, seperti yang terjadi di Lampung, November lalu. Guntur memandang konflik sosial adalah unsur yang hakiki dalam perkembangan masyarakat. Menurutnya, konflik dapat berdampak positif apabila masyarakat mampu mengelolanya menjadi kekuatan yang membangun. Namun, dalam esainya yang berjudul, “Utopia Demokrasi dan Konflik Sosial Pasca Reformasi”, hal yang patut diwaspadai, ketika konflik sudah di luar batas dan mengancam harkat maupun martabat manusia.

Guntur menganggap konflik sosial rawan terjadi pada negara yang menganut sistem demokrasi. “Karena demokrasi membuka ruang kebebasan untuk berekspresi, beraspirasi dan mengaktualisasikan dirinya secara maksimal,” jelasnya.

Penyebab konflik sosial di Indonesia, negara penganut sistem demokrasi, menurut Najib ada tiga. Pertama, faktor pendorong yang berupa perubahan sosial-ekonomi, migrasi penduduk, kebijakan dan desentralisasi. Kedua, faktor pemicu konflik sosial, seperti pesta minuman keras. Ketiga, faktor akar, seperti kesenjangan sosial-ekonomi dan kemiskinan struktural. Dari ketiga faktor tersebut, menurutnya, faktor akar lah yang menjadi faktor penting yang harus diselesaikan negara. “Karena akar konflik biasanya tidak tampak, bersifat struktural, dan menjadi sumber utama konflik sosial,” jelasnya.

Serangkaian pemaparan dalam diskusi tersebut mengajak peserta untuk melihat konflik sosial dengan perspektif yang berbeda. “Tidak hanya melihat ramainya konflik sosial yang terjadi atau siapa lawan siapa, tetapi untuk mengantarkan pemahaman peserta bahwa ada yang salah pada peran negara dan masyarakat,” papar Menteri Kajian Strategi BEM KM, Hafidz Arfandi.

Meski demikian, banyak bangku peserta yang kosong. Dari target peserta 50 orang, hanya terpenuhi 23. “Banyak peserta yang tidak mengikuti sampai selesai sehingga diskusi ini terlalu sepi untuk dinamakan diskusi publik,” ujar Utami salah seorang peserta yang hadir.  Hafidz mengaku, diskusi ini sepi karena publikasi kegiatan terlambat. “Kita tidak melihat kuantitas peserta yang hadir, tetapi kontribusi dari peserta setelah mengikuti diskusi ini,” tambahnya.[Anggun Intan Permatasari, Amrina Rustiyati, Faizal Akbar]

Administrator

See author's posts

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat

Koalisi Persma DIY dan AJI Yogyakarta Kecam Prabowo...

Logika Dominasi di Balik Upaya Transisi Hijau

Diskusi Buku Tersungkur dan Tetap Melawan Rekam Perlawanan...

Interupsi Mahasiswa UGM dalam Diskusi Tiga Menteri Bukan...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat

    September 1, 2026
  • Taufiqurrahman: Produksi Pengetahuan Tanpa Komersialisasi Bukan Upaya Mustahil

    Agustus 27, 2026
  • LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat

    Agustus 25, 2026
  • Suci Lestari Yuana: Ojol sedang Dijajah

    Agustus 21, 2026
  • MBG untuk siapa

    Agustus 21, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM