
©Sutanto/Bal
“Persma telah mati di FISIP,” ungkap Mahes, salah satu awak Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Philosofis di tengah riuh Gebyar Ormawa Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Yogyakarta (FISIP UNY), Sabtu pagi (15-08). Hal ini diungkapkan Mahes sebagai respons atas dugaan pembubaran sepihak LPM Philosofis oleh pihak dekanat. Adanya dugaan pembubaran berawal dari pelarangan pihak dekanat atas keikutsertaan LPM Philosofis pada Gebyar Ormawa serta ketidakjelasan surat keputusan (SK) dan pencairan anggaran.
Langkah pembubaran LPM Philosofis, menurut Mahes, dibuktikan dengan Surat Keputusan (SK) kepengurusan LPM Philosofis yang tidak ditandatangani oleh Dekan FISIP. Padahal, menurutnya, LPM Philosofis telah mengikuti pelantikan pengurus di bulan Maret dan sempat mengajukan anggaran kegiatan di bulan April. “Itu sebuah maladministrasi ataupun memang upaya represif dari kampus,” pungkas Mahes.
Terkait SK Ormawa yang tidak ditandatangani, Iqbal mengaku belum mendapat penjelasan lebih lanjut dari pihak dekanat. Ia lantas mempertanyakan langkah dekanat yang sempat menurunkan anggaran untuk kegiatan LPM Philosofis di bulan Juli. “Syarat kami mendapatkan dana adalah SK kami kan harus sah dulu,” tegas Iqbal.
Kejanggalan mengenai SK ormawa kian terasa jelas ketika LPM Philosofis mengajukan penurunan anggaran pembuatan zine untuk acara Gebyar Ormawa. Zahra menerangkan bahwa proposal yang telah dikirim tidak diterima dengan dalih kesalahan administrasi. Namun, ketika diminta kejelasan, pihak akademik justru saling melempar tanggung jawab sehingga menimbulkan ambiguitas sikap bagi LPM Philosofis. “Mereka [akademik-red] bilang, ‘Tapi kalau seandainya kalian mau menemui dekan, jangan bilang kami yang nyuruh.’ Ya terus kita kan bingung ya,” kesal Zahra.
Di samping persoalan anggaran, pihak dekanat melalui panitia PKKMB juga tidak menerima keikutsertaan LPM Philosofis dalam rangkaian Gebyar Ormawa. Hal ini terbukti melalui cerita Zahra, Pemimpin Redaksi LPM Philosofis, yang mengatakan bahwa LPM Philosofis dilarang menggelar aksi teatrikal berunsur kritik saat Gebyar Ormawa. Awalnya, pada Kamis (13-08), LPM Philosofis diminta mengirimkan naskah aksi teatrikal, tetapinaskah itu ditolak sebab dianggap menyebut tokoh pemerintah dan menyinggung unsur SARA. Panitia lantas meminta LPM Philosofis menghapus kalimat “terbungkam oleh rantis brimob” dari naskah. “Panitia menyuruh kami untuk mengkritik negara secara tidak tersurat,” keluh Zahra.
Pemimpin Umum LPM Philosofis, Iqbal, turut melengkapi cerita Zahra. Ia menuturkan bahwa pihak dekanat juga melarang LPM Philosofis mendirikan stan di acara Gebyar Ormawa. Iqbal juga mengaku mendapat ancaman berupa pembubaran Gebyar Ormawa apabila LPM Philosofis tetap nekat melakukan aksi teatrikal. “Itu semua instruksi dari dekanat langsung yang disampaikan ke ketua BEM, nggak langsung ke kami,” ketus Iqbal.
Yusro (bukan nama sebenarnya), salah satu pengurus BEM FISIP UNY, menjelaskan bahwa pembubaran aksi teatrikal tersebut mengacu pada panduan teknis PKKMB UNY 2026. Ia berasumsi bahwa aksi teatrikal LPM Philosofis digolongkan sebagai gerakan politik praktis oleh pihak dekanat. Dalam aturannya, PKKMB UNY 2026 melarang gerakan politik praktis dan menggolongkannya ke dalam jenis pelanggaran berat. “Semua yang berbau kritik itu dianggap sebuah gerakan politik praktis,” resah Yusro. Oleh sebab itu, aksi kritis seperti ini berpotensi mendapat sanksi, yaitu dikeluarkan dari PPKMB dan mendapat tindak lanjut sesuai ketentuan kampus. Iqbal yang sudah lama menjadi mahasiswa FISIP UNY tak lagi merasa heran dengan larangan aksi teatrikal. “Kami sudah menangkap intensi bahwa ya memang fakultasnya yang kayak gitu, enggak mau kita kritis” ungkap Iqbal kecewa. Baginya, larangan tersebut merupakan salah satu upaya dekanat untuk mematikan nalar dan sikap kritis mahasiswa.
Meski tidak lagi dapat berharap pada kebijakan kampus, Iqbal menegaskan bahwa LPM Philosofis akan tetap bergerak sebagai media alternatif jurnalistik di FISIP UNY. Hal ini mantap dilakukan meskipun LPM Philosofis tak lagi dianggap sebagai anggota ormawa. “Ini media kita, kita buat masih tetap waras,” tegas Iqbal.
Penulis: Ashfa Nayla dan Sulthan Zidan
Penyunting: Ahmad Arzani
Fotografer: Ashfa Nayla
Kurator: Adhitia Sutanto