Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia
Aksi “Agustus Gelap” Desak Pemerintah Tuntaskan Persoalan Rakyat
Taufiqurrahman: Produksi Pengetahuan Tanpa Komersialisasi Bukan Upaya Mustahil
LPM Philosofis Hadapi Ancaman Pembubaran oleh Dekanat
Suci Lestari Yuana: Ojol sedang Dijajah
MBG untuk siapa

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KABARLAPORAN UTAMA

Lahirnya Kesenian dari Kesunyian

Desember 6, 2013

3

Selasa sore (3/12), di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri diselenggarakan acara bertajuk “Power of Difabel”. Acara yang mengusung tema “Difabel for Cancer”ini mengangkat kaumdifabel, terutama para pengidap tunarungu. Deaf Art Community (DAC), bekerja sama dengan UKM Peduli Difabel UGM dan Fakultas Psikologi UGM menjadi penyelenggara acara yang berlangsung pada malam Rabu tersebut.

“Power of Difabel” merupakan sebuah pertunjukkanyang diisi penampilan-penampilan kesenian.Acara ini merupakan hasil perencanaan yang dibuat oleh anak-anak dari DAC yangmerupakan penyandang tunarungu. Pentas seni tersebut dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Difabel Sedunia yang jatuh pada hari yang sama.

Dilangsungkannya acara ini bertujuan untuk menunjukan kemampuan yang dimiliki kaum difabel.“Kami ingin memperlihatkan bahwa kaum difabel mungkin tidak bisa mendengar tapi mereka mampu untuk mengekspresikan apa yang mereka inginkan,” tutur Karim, Ketua Panitia Acara. Selain dalam hal berkesenian, “Power of Difabel”menjadi wujud bahwa kaum difabel juga mampu membantu sesama. Hal itu telahtercermin pada tema acara yaitu untuk membantu para penderita kanker terutama yang berada di Yogyakarta.

Selama berlangsungnya pertunjukkan, sovenir berbentuk pin dijual seharga Rp5000,00 di meja tamu. Selain di saat acara, penjualan juga telah dilakukan sebelumnya di Fakultas Psikologi UGM. Semua hasil penjualan akan disumbangkan kepada Yayasan Kanker Indonesia cabang Yogyakarta. “Disini juga menunjukan bahwa difabel itu care terhadap salah satunya orang kanker”, tambah Karim.

Pelaksanaan acara “Power of Difabel” terdiri atas dua sesi.Sesi pertama dibuka dengan penampilan dari Teresa Ayu Kartika dan komunitas BeJo (Beatbox Jogja). Penampilan selanjutnya dipersembahkan oleh anak-anak DAC yang menyuguhkan drama pantomim serta modern dance. Tepat pukul 17.00 WIB sesi pertama ditutup dengan aksi one-leg breakdancingoleh Arif Setya Budi.

Susunan acara yang sedikit berbeda tersaji pada sesi kedua. Dibuka oleh penampilan capoeira dari  Groupo Senzala Capoeira bersama beberapa anggota DAC. Diteruskan oleh penampilan drama pantomim dari DAC yang berkolaborasi dengan komunitas BeJo. Acara dilanjutkan dengan pemutaran film pendek “Penunggu Matahari” karya DAC selama kurang lebih 20 menit. Arif kembali naik panggung menampilkan one-legbreakdancing sekaligus menutup rangkaian acara ”Power of Difabel”.

Meskipun tidak terlalu banyak dihadiri penonton, pertunjukkan malam itu dinilai sukses. Acara “Power of Difabel”berhasil membuat penonton terharu. “Saya benar benar terharu mereka bisa menunjukan bahwa mereka punya kemampuan,mereka bisa melebihi batas mereka,” komentar Fransiska, salah satu penonton. Kalimat bernada  puas juga terlontar dari Broto Wijayanto, ketua Deaf Art Community. “Selama ini mereka selalu dianggap bahwa mereka patut dikasihani, patut dibantu,”, ungkapnya. “Tapi malam ini terbukti bahwa mereka juga dapat membantu orang lain,” lanjutnya.[Farras Muhammad, Mayang Pramudita Yusuf]

Administrator

See author's posts

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi

Warga Pesisir Semarang dalam Getir Tata Kelola Air

Kelakar UGM, KKN Tak Boleh Kelar

Sendat Tetes Air Wadas dalam Jerat Tambang

Petani Pundenrejo dalam Belenggu “Hama” PT LPI

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan

    September 18, 2026
  • Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian Lapangan Kerja

    September 15, 2026
  • Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang Tak Terusik

    September 12, 2026
  • Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan dan Kekerasan Aksi 1 September

    September 7, 2026
  • Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

    September 6, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM