Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi...
Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...
Kiri yang Diabaikan
Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?
Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Jurnalisme Warga Perlu Dilindungi

September 22, 2018

@Istimewa

Rabu (19-08), belasan orang mengikuti diskusi yang diadakan di Antologi Collaborative Space. Diskusi tersebut dihelat oleh Combine Resource Institution, suatu lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pengembangan jaringan informasi berbasis komunitas. Aris Mulyawan (Aliansi Jurnalis Independen Semarang), Rahmat Ali (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia), Roy Thaniago (Remotivi), dan Ferdhi F. Putra (Combine Resource Institution), dihadirkan sebagai pemantik diskusi dengan tajuk “Ketika Jurnalis Dipidana: Bagaimana Masa Depan Media Komunitas?” ini.

Diskusi tersebut membahas mengenai hasil tulisan yang dimuat oleh media komunitas dan dianggap tidak kredibel. Hal itu berkaitan erat dengan banyaknya penulis berita di dalamnya yang tidak mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Moderator diskusi, Idha Saraswati, mengemukakan latar belakang diskusi, yaitu munculnya kasus pelaporan yang menimpa Zakki Amali.

Zakki merupakan seorang pemimpin redaksi dari situs berita bernama Serat ID. Zakki bermakud untuk mengonfirmasi dugaan plagiarisme yang dilakukan oleh rektor universitas di Indonesia. Mulanya ia mengumpulkan data, mencari narasumber, hingga menemukan tulisan seorang guru di Salatiga yang menjadi sumber tulisan rektor tersebut. Setelah dilakukan perbandingan, terbukti bahwa isi tulisan keduanya persis sama, yang membedakan hanya judulnya saja. Selanjutnya Zakki segera menulis berita tersebut dan memublikasikannya di Serat ID.

Berita yang ditulis Zakki itu rupanya berbuntut panjang. Zakki terjerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan dilaporkan atas dua hal. Pertama, Serat ID belum menyelesaikan proses pengajuan sebagai lembaga berbadan hukum. Kedua, Zakki tidak mempunyai sertifikat lulus tes UKW.

Ferdhi menyampaikan pendapatnya mengenai kasus pelaporan Zakki tersebut. Menurutnya, apabila pelaporan karena tidak bersertifikat UKW dapat dilakukan, maka hal itu merupakan ancaman bagi penulis berita yang mempunyai kondisi serupa. “Kalau begitu, (dipidana dengan) UU ITE saja buat kita semua,” sahutnya.

Ferdhi berpendapat bahwa media komunitas ada sebagai reaksi zaman, sehingga negara pun tidak dapat menghambat media-media yang dibentuk oleh warga. Warga, menurut Ferdhi, dapat disadarkan, atau bahkan akan menyadari sendiri, bahwa hak seseorang atas informasi bukan hanya menerima, tetapi juga menyampaikan. Atas kesadaran tersebut, dapat dilakukan sosialisasi terhadap warga mengenai hak untuk menginformasikan kebenaran.

Roy mengungkapkan bahwa diperlukan pendefinisian ulang mengenai media komunitas bentukan warga, yang disebut jurnalisme warga (citizen journalism). Menurut Roy, terdapat perbedaan pandangan dalam mengartikan jurnalisme warga tersebut. “Pandangan pertama adalah journalism for citizenship, dan yang kedua adalah apa yang ingin saya tawarkan yaitu journalism as citizenship,” ujarnya.

Penjelasan Roy senada dengan argumen Ferdhi sebelumnya. Journalism for citizenship atau jurnalisme untuk warga, yaitu informasi ada sebatas karena dihadirkan kepada warga. Sementara journalism as citizenship berarti warga selain sebagai penerima informasi dapat bertindak sebagai pelaku yang menyediakan, tanpa perlu mengikuti tes UKW sebelumnya. Lagi pula, informasi yang diberitakan dalam media komunitas dalam lingkup masyarakat kecil lebih condong pada unsur kedekatan, seperti perayaan Maulid Nabi di kampung tersebut. “Memproduksi media komunitas dapat dinilai sebagai praktik moral warga dalam membangun masyarakat,” terang Roy.

Yaya Ulya Himawan, peserta diskusi pegiat situs berita Gangsiput, beranggapan bahwa seseorang yang tidak bersertifikat UKW sah-sah saja untuk menulis berita apabila informasinya memang benar. Pada kasus Zakki, meskipun tanpa sertifikat UKW, langkah-langkah yang dilakukannya dalam mencari kebenaran telah berpedoman pada kaidah berlaku. Dengan demikian, menurut Yaya, asalkan telah sesuai kode etik jurnalistik, penyampaian informasi dapat dilakukan oleh siapa saja. “Kalau kata Cak Rusdi, ‘karena jurnalistik bukan monopoli wartawan’,” lanjutnya.

Peserta diskusi lainnya, Pambudi Wicaksono, anggota Masyarakat Peduli Media Yogyakarta, mengusulkan tindakan yang dapat dilakukan oleh anggota-anggota lain sebagai reaksi atas kasus pelaporan Zakki. Apabila pada akhirnya Zakki tetap terjegal, maka rekan komunitasnya dapat meminta dukungan publik dari sosial media mengenai diskursus istilah media komunitas. “Itu kan, the power of crowd, bahwa kekuatan komunitas adalah komunitas itu sendiri,” pungkas Pambudi sambil tertawa.

Penulis: Rasya Swarnasta 
Penyunting: Henny Ayu Amalia

Redaksi

See author's posts

jurnalisme wargamedia komunitaspidanawartawan
2
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi...

Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi di Indonesia

    Oktober 17, 2026
  • Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga DIY

    Oktober 5, 2026
  • Kiri yang Diabaikan

    Oktober 1, 2026
  • Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?

    September 24, 2026
  • Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal

    September 24, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM