Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi...
Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...
Kiri yang Diabaikan
Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?
Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal
Penghidupan Warga Kampung Laut dalam Bayang Perampasan Lahan
Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...
Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...
Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...
Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • SERIES
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KABARKILAS

Jurnalisme Data dalam Era Keterbukaan Informasi

April 24, 2017

©Dwiky/BAL

Jurnalisme data (data driven journalism) merupakan fenomena baru dalam dunia jurnalistik Indonesia. Wahyu Dhyatmika, Redaktur Eksekutif Majalah TEMPO, menjelaskan bahwa data yang dimaksud dalam jurnalisme data berupa kumpulan data yang terstruktur dan bisa dianalisis secara statistik oleh publik. Fenomena jurnalisme data lahir karena keterbukaan informasi.

Melihat hal itu, Satu Data Indonesia, sebuah program keterbukaan informasi yang diinisiasi oleh Kantor Staf Presiden Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan Pengendalian Pembangunan, mengadakan acara “Indonesian Data Driven Journalism (IDDJ) 2017”.  Acara ini terselenggara di Ballroom Gedung Utama Lantai M Kantor Pusat PT Pertamina (Persero), Jumat (21-04). Acara ini juga diselenggarakan oleh PT Pertamina (Persero), Aliansi Jurnalis Independen, Jaringan Indonesia untuk Jurnalisme Investigasi, dan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara. IDDJ 2017 dibuka oleh Darmawan Prasodjo selaku Deputi I Kepala Staf Kepresidenan, lalu dilanjutkan dengan lightning talks, workshop, dan kompetisi jurnalisme data bertema “Pemanfaatan Data Terbuka untuk Kemajuan Energi Nasional dan Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat”.

Ramda Yanurzha, data scientist Research Triangle Institute, membuka sesi workshop dengan memaparkan tentang data scientist. Langkah-langkah yang dilakukan data scientist adalah memilih topik berdasarkan riset ada/tidaknya data, membentuk tim untuk menyelami data dan memahami konteks topik, serta membentuk tim desain yang akan berinovasi dalam memvisualisasikan data. Ia juga memaparkan bahwa jurnalisme data bukan hanya menghasilkan sebuah tulisan, tetapi sebuah produk yang akan memberi pengalaman bagi wartawan. Pengalaman yang dimaksud oleh Ramda adalah pengalaman dalam mencari, mengumpulkan, mengolah, menganalisis, dan mendeskripsikan data kuantitatif ke dalam sebuah tulisan, serta memvisualisasikannya dalam grafik. “Jurnalisme data adalah bagaimana kita membuat orang lain mengerti dan tertarik dengan karya kita,” ucap Ramda.

Contoh pemanfaatan jurnalisme data adalah rancangan aplikasi yang dipresentasikan oleh Yekhti Hesthi Murthi, Pemimpin Redaksi Independen.id, di sesi lightning talks bernama Traffic Accidents Area. Aplikasi tersebut mengumpulkan data lokasi kecelakaan dari publikasi media baik daring maupun cetak dan publikasi kepolisian. Data lokasi tersebut lalu ditandai di Google Maps sebagai daerah rawan kecelakaan. Informasi tersebut dapat digunakan oleh wartawan untuk melakukan in-depth reporting, oleh kepolisian dan pemerintah untuk kebijakan lalu lintas, serta menjadi informasi bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan di daerah yang rawan tersebut.

Wahyu menjelaskan proses kerja jurnalisme data. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan data yang ada lalu dibersihkan (data cleaning). Misal, penamaan data provinsi Jakarta Barat yang ditulis “Jakarta Barat”, “Jakartabarat”, atau “Jakbar”. Setelah itu penyesuaian konteks, seperti penyesuain siapa, bagaimana, dan kapan suatu data dikumpulkan. Selain itu, sebuah data yang baik tidak hanya menggunakan satu kumpulan data saja, tetapi juga perlu dikombinasikan dengan kumpulan data lain. Baru kemudian seorang wartawan bisa mulai menulis.

Jurnalisme data dapat memunculkan empat narasi. Pertama, menguji kebenaran hipotesis. Misalnya, India Spend menggunakan data kemiskinan dan kejahatan dalam menguji hipotesis bahwa bukan hanya kemiskinan yang mempengaruhi tingkat kejahatan di suatu wilayah. Kedua, data juga dapat digunakan untuk melihat tren waktu, seperti melihat tren anggaran kesehatan selama sepuluh tahun. Ketiga, melihat outliers atau orang-orang yang “aneh”, seperti yang dilakukan oleh The Guardian dalam melaporkan anggota parlemen Inggris yang memiliki pengeluaran paling besar. Terakhir, melihat koneksi tidak tampak. Contohnya, Connected China yang melacak dan memvisualisasikan orang, institusi, dan hubungan yang membentuk struktur kekuasaan elit China dengan menggunakan data jaringan dari Reuter.

Menurut Wahyu, wartawan tidak bisa lagi sekadar mengandalkan wawancara untuk menulis sebuah berita. Sebab, hal itu sudah dilakukan dalam citizen reporting. Perkembangan media sosial mendorong citizen reporting di masyarakat. “Wartawan harus memikirkan ulang perannya di publik,” tutur Wahyu. Sayangnya, data terbuka yang digunakan dalam jurnalisme data belum tersedia di semua kementerian dan lembaga di Indonesia.

IDDJ 2017 dihadiri oleh pegiat media dan pers mahasiswa, umum, serta humas kementerian/lembaga. Kirana Rindu, salah seorang peserta perwakilan pers mahasiswa dari Universitas Pertamina angkatan 2016 mengungkapkan bahwa ia mendapat pengetahuan tentang manfaat, cara memilah, dan cara mendapatkan data terbuka saat mengikuti acara ini. “Apalagi, sebagai mahasiswa kita sering nyari-nyari data buat esai, nah acara ini memberikan informasi mengakses dan memilah data dengan pemahaman jurnalisme data,” ujar Kirana. [Sitti Rahmania]

Redaksi

See author's posts

jurnalisme datakilas
1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi...

Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga...

Akademisi dan Mahasiswa Soroti Mahalnya UKT Hingga Ketidakpastian...

Amarah Ibu Berisik atas Kekacauan Program MBG yang...

Massa Aksi Tuntut Polda DIY Usut Tuntas Tuduhan...

Premanisme Negara dalam Aksi Okupasi Simpang Gramedia

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Diskusi “Apa Rakyat Bisa Salah” Soroti Ilusi Demokrasi di Indonesia

    Oktober 17, 2026
  • Diskusi “Jogja Istimewa” Soroti Kemiskinan dan Penggusuran Warga DIY

    Oktober 5, 2026
  • Kiri yang Diabaikan

    Oktober 1, 2026
  • Corporate Farming: Revolusi Hijau Seri Dua?

    September 24, 2026
  • Joko Susilo: Gerakan Mahasiswa Perlu Lampaui Fragmentasi Neoliberal

    September 24, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM