Puluhan orang berpakaian adat Jawa memadati sudut halaman Kemandungan di Kompleks Kraton Yogyakarta Selasa (19/6) sore. Mereka tengah mengikuti lomba panah tradisional Mataraman atau yang lazim disebut Jemparingan. Jemparingan adalah tradisi peninggalan dari Sultan Hamengku Buwono X. Kegiatan panahan tradisional ini telah dilombakan sejak 1934. Di masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono X, lomba ini diadakan setiap 35 hari sekali dan bertepatan dengan waktu hari dalam tanggalan Jawa, yakni Selasa Wage. Kini, panahan tradisional Mataraman menjadi salah satu gaya dalam cabang olahraga panah di Indonesia.
Semua orang yang mengikuti lomba diharuskan menggunakan busana adat Jawa, busur serta panah tradisional. Jemparingan sendiri terdiri dari 20 babak. Dalam satu babak, pemanah diperbolehkan untuk menembakkan empat buah anak panah. Sasaran dari para pemanah adalah wong-wongan. Wong-wongan adalah target berupa tongkat yang merepresentasikan manusia. Target tersebut terdiri dari dua bagian, yakni kepala dan badan. Baik kepala dan badan mempunyai nilai yang berbeda. Apabila pemanah dapat mengenai kepala maka ia akan mendapatkan tiga skor. Sedangkan, bagian badan hanya akan menambah satu skor bagi pemanah. Sebanyak tiga pemenang dari kelompok putra dan putri dipilih berdasarkan perolehan skor terbanyak. [Teks: Nindias Nur Kalika, Foto: Hary Prasojo Syafa’atillah]

©jojo. bal

©jojo. bal

©jojo. bal

©jojo. bal

©jojo. bal

©jojo. bal

©jojo. bal